Seri Eksposisi Surat Roma 16:1-2: SALAM KEPADA SAUDARA SEIMAN-1: FEBE

May 30th, 2009 by tanenlai2005

Seri Eksposisi Surat Roma:

Penutup-7

 

 

SALAM KEPADA SAUDARA SEIMAN-1: FEBE

 

oleh:Denny Teguh Sutandio

 

 

 

Nats: Roma 16:1-2.

 

 

 

Saat ini kita beralih ke pasal terakhir dari surat Roma. Pasal ini dibagi menjadi tiga perikop oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), yaitu: Salam, Peringatan, dan Segala kemuliaan bagi Allah. Tiga perikop ini saya klasifikasikan sendiri, sebagai: salam kepada saudara seiman dan sepelayanan (16:1-16, 21-24), peringatan akan bahaya perpecahan (16:17-20), dan salam terakhir Paulus (melalui Tertius) yang berisi penyingkapan kemuliaan Allah (16:25-27). Perikop pertama adalah tentang salam kepada saudara seiman/sepelayanan. Mengapa salam ini diperlukan? Geneva Bible Translation Notes menafsirkan bahwa nama-nama saudara seiman/sepelayanan itu disebutkan dan diberi salam bertujuan agar jemaat di Roma mengetahui siapa yang paling dihargai dan juga kepada siapa mereka harus mengikuti. Menarik sekali tafsiran ini. Dengan kata lain, melalui penyebutan nama-nama di dalam salamnya, Paulus ingin agar jemaat Roma mengenal orang-orang yang disebutkan dan mengikuti mereka. Di luar orang-orang yang disebutkannya, Paulus tentu tidak mengenalnya dan itu bisa berbahaya bagi pertumbuhan iman (=menyesatkan) jemaat Roma (bdk. Rm. 16:17).

 

 

Di ayat 1, Paulus menyatakan, “Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita yang melayani jemaat di Kengkrea,” Sebagai pembukaan terhadap salamnya, Paulus menyapa Febe. Siapakah Febe? Terjemahan Indonesia kurang jelas menyatakan identitas asli Febe. New International Version (NIV) Spirit of the Reformation Study Bible memberikan keterangan tambahan tentang Febe, yaitu Febe adalah seorang pembawa surat Paulus. Selain itu, Febe adalah seorang Yunani dan menjabat sebagai pelayan Tuhan di jemaat Roma. Kata “servant” di dalam NIV, King James Version (KJV), dan mayoritas Alkitab terjemahan Inggris di dalam bahasa aslinya menggunakan kata diakonos yang diterjemahkan: diaken/pelayan (minister). Analytical-Literal Translation (ALT) menambahkan satu kata setelah servant yaitu deaconess (diaken wanita). NIV Spirit of the Reformation Study Bible memberikan penjelasan bahwa ada sedikit persetujuan tentang jabatan Febe, apakah ia benar-benar seorang diaken di gereja ataukah ia hanya melayani Tuhan di gereja (bukan diaken). Sedangkan Albert Barnes, Adam Clarke, dan Matthew Henry di dalam tafsiran mereka menegaskan bahwa Febe adalah seorang diaken yang melayani di Kengkrea. Menurut Adam Clarke di dalam tafsirannya Adam Clarke’s Commentary on the Bible, diaken pada waktu itu bertugas mengurus para petobat wanita untuk dibaptis, mengajar para katekumen atau para calon baptisan, mengunjungi orang sakit dan mereka yang ada di dalam penjara. Syarat diaken ditetapkan di dalam 1 Timotius 3:8-9. Lalu, Febe dikatakan melayani jemaat di Kengkrea. Kengkrea, menurut Dr. John Gill dan Albert Barnes di dalam tafsiran mereka, adalah pelabuhan laut kota Korintus. Dari ayat ini, kita belajar dua hal penting:

Pertama, menyebut Febe sebagai saudara. Paulus menyebut Febe sebagai saudara. Dr. John Gill menafsirkan “saudara” ini bukan saudara secara jasmaniah, namun secara rohaniah. Begitu juga halnya dengan Matthew Henry yang menafsirkan “saudara” ini sebagai pengertian saudara di dalam anugerah. Lalu, apa pentingnya kata “saudara” ini? Pentingnya adalah Paulus menyebut Febe, seorang perempuan sebagai saudara seiman. Di dalam tradisi Yahudi, ada pemisahan antara pria dan wanita, bahkan di dalam ibadah. Paulus menerobos budaya Yahudi dengan pengertian integratif bahwa pria dan wanita itu sama di mata Tuhan dan di dalam persekutuan di dalam Kristus, meskipun masih ada perbedaan natur dan otoritas di antara keduanya.

 

Kedua, memperhatikan para pelayan Tuhan di tempat lain. Luar biasa, Paulus bukan mengingatkan jemaat Roma untuk memperhatikan orang-orang yang melayani di Roma, tetapi justru orang yang melayani di luar Roma, yaitu di daerah Korintus. Ini adalah suatu teladan bagi kita. Kita sering kali hanya memperhatikan para pelayan Tuhan di tempat kita berada, namun tidak memperhatikan para pelayan Tuhan di tempat lain atau bahkan di pelosok-pelosok daerah. Paulus mengajar kita agar kita juga memperhatikan para pelayan Tuhan di tempat lain misalnya dengan mendoakan mereka atau/dan mengirimkan bantuan bagi mereka melalui lembaga pelayanan yang bertanggungjawab.

 

 

Bukan hanya menganggap Febe sebagai saudara seiman dan pelayan Tuhan, Paulus mengingatkan jemaat Roma untuk menyambutnya dan memberikan bantuan kepadanya. Di ayat 2, ia berkata, “supaya kamu menyambut dia dalam Tuhan, sebagaimana seharusnya bagi orang-orang kudus, dan berikanlah kepadanya bantuan bila diperlukannya. Sebab ia sendiri telah memberikan bantuan kepada banyak orang, juga kepadaku sendiri.” Dari ayat ini, kita belajar dua poin penting:

Pertama, menyambut saudara seiman di dalam Tuhan. Paulus mengingatkan jemaat Roma untuk menyambut Febe sebagai saudara seiman di dalam Tuhan, seperti seharusnya bagi orang-orang kudus. Berarti, seorang diaken bisa diidentikkan dengan orang kudus pada zaman itu, karena yang bisa menjadi diaken haruslah orang yang memelihara kekudusan. Bagaimana dengan kita? Kita sebagai orang Kristen juga disebut orang-orang kudus, bukan karena kita sudah kudus 100%, tetapi secara status kita telah dikuduskan melalui penebusan Tuhan Yesus Kristus. Kita pun harus menerima dan menyambut saudara seiman kita juga di dalam Tuhan sebagai sesama anggota tubuh Kristus. Bagaimana caranya? Dengan menerima dan menyambut mereka apa adanya, misalnya dengan share iman, kerohanian, karakter, dll dengan mereka dan kita pun bisa belajar dari mereka banyak hal. Dengan menerima dan menyambut saudara seiman di dalam Kristus, kita sedang membangun sebuah persekutuan yang indah di dalam Kristus yang mengakibatkan orang-orang di luar Kristen akan merasakan cinta kasih Kristus.

 

Kedua, membantu saudara seiman jika diperlukan. Menyambut saudara seiman di dalam Tuhan bukan hanya ditandai dengan ucapan di mulut bibir kita saja, tetapi juga melalui perbuatan kita. Perbuatan itu ditandai dengan kerelaan kita membantu saudara seiman kita jika diperlukan. Ketika kita membantu mereka, kita menunjukkan kasih yang tulus dan benar kepada mereka dan mereka yang kita bantu akan melihat cinta kasih Kristus.

 

Lalu, mengapa Paulus mengingatkan jemaat Roma untuk membantu Febe? Paulus mengatakan bahwa karena Febe telah membantu banyak orang dan Paulus sendiri. Apakah ini berarti Paulus merasa hutang budi kepada Febe? Saya pikir, Paulus tidak demikian. Maksud Paulus tentu bukan ingin membalas budi kepada Febe, tetapi sebagai wujud rasa syukur Paulus kepada Allah sekaligus sebagai contoh untuk diteladani oleh jemaat Roma di dalam memberikan bantuan kepada sesama anak Tuhan.

 

 

Dari dua ayat ini, kita belajar sosok Febe dan pengakuan Paulus akan Febe. Bagaimana dengan kita? Maukah kita memperhatikan para pelayan Tuhan di tempat lain dan membantu mereka sesuai dengan gerakan Tuhan di dalam hati kita? Kiranya melalui pembelajaran 2 ayat, kita dimengertikan akan signifikansi sesama anak Tuhan dan pelayan Tuhan demi pertumbuhan dan pelebaran Kerajaan Allah di bumi ini. Amin. Soli Deo Gloria.

Seri Eksposisi Surat Roma 15:30-33: PELAYANAN DAN DUKUNGAN DOA

May 9th, 2009 by tanenlai2005

Seri Eksposisi Surat Roma:

Penutup-6

 

 

Pelayanan dan Dukungan Doa

 

oleh:Denny Teguh Sutandio

 

 

 

Nats: Roma 15:30-33.

 

 

 

Setelah menjelaskan tentang pelayanan sosial di ayat 25-29, maka Paulus menutup pasal 15 dengan suatu permintaan kepada jemaat Roma agar mendoakan dia dan pelayanannya sekaligus memberi berkat kepada jemaat di Roma.

 

Di ayat 29, Paulus berjanji ketika ia akan mengunjungi Roma, ia akan datang dengan penuh berkat Kristus. Namun, ia menyadari keterbatasannya, maka di ayat 30, ia mengatakan, “Tetapi demi Kristus, Tuhan kita, dan demi kasih Roh, aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, untuk bergumul bersama-sama dengan aku dalam doa kepada Allah untuk aku,” Kata “tetapi” sebagai kata sambung lanjutan dari ayat 29 di dalam bahasa Yunani de bisa berarti dan, tetapi, sekarang, dll. Terjemahan Inggris memiliki beragam penggunaan kata sambung ini. Analytical-Literal Translation (ALT), 1965 Bible in Basic English (BBE), English Majority Text Version (EMTV), International Standard Version (ISV), King James Version (KJV), Revised Version (RV), 1833 Webster Bible, dan 1898 Young’s Literal Translation (YLT) menerjemahkannya now (=sekarang). Sedangkan 1898 Darby Bible, Literal Translation of the Holy Bible (LITV), Modern King James Version (MKJV), 1912 Weymouth New Testament (WNT) menerjemahkannya But (=tetapi). James Murdock New Testament menerjemahkannya And (=dan). Lain halnya dengan Contemporary English Version (CEV), English Standard Version (ESV), God’s Word, dan New International Version (NIV) tidak memberikan kata sambung apa pun. Meskipun ada beragam terjemahan kata sambung ini, intinya tetap sama, yaitu ayat 30 tidak bisa dipisahkan dari ayat 29. Kemudian, kita akan menyelidiki dasar permintaan Paulus. Dasar permintaan Paulus adalah Kristus sebagai Tuhan kita dan kasih Roh. Berarti permintaan Paulus bukan permintaan yang berpusat kepada manusia, tetapi demi Allah dan perluasan kerajaan-Nya. Begitu juga halnya dengan kasih dari Roh Kudus yang mempersatukan Paulus dan jemaat yang menjadi dasar permintaan Paulus kepada jemaat di Roma agar mendoakannya.

 

Sebelum menyelidiki permohonan Paulus, kita akan menyelidiki bentuk permohonan itu. Di ayat 30, terjemahan Indonesia menyatakan “aku menasihatkan kamu,” Terjemahan ini kurang tepat. Mayoritas terjemahan Inggris memakai kata-kata yang berkaitan dengan memohon, meminta, mendesak, dll, seperti: urge, beseech, beg, etc. Berarti, ia bukan menasihati jemaat Roma, tetapi memohon/meminta jemaat Roma untuk mendoakannya dan pelayanannya. Apakah ini menandakan keegoisan Paulus agar jemaat Roma mendoakannya? TIDAK. Justru terbalik, ungkapan minta tolong dari Paulus ini menandakan Paulus adalah seorang rasul Kristus yang rendah hati yang menyadari keterbatasannya dan meminta tolong jemaat Roma bergumul bersamanya di dalam doa. Hamba Tuhan sejati adalah hamba Tuhan yang bukan merasa diri hebat, pintar, dan cakap dalam segala sesuatu, tetapi hamba Tuhan sejati adalah hamba Tuhan yang terus merasa kurang dan ingin terus mengerjakan pekerjaan Tuhan lebih maksimal lagi sambil rendah hati mengakui keterbatasan diri dan meminta kekuatan dari Tuhan. Paulus menunjukkan hal ini. Bagaimana dengan kita? Kedua, hamba Tuhan sejati juga adalah hamba Tuhan yang bersekutu dengan jemaatnya dan meminta mereka mendoakannya atau bergumul bersamanya di dalam doa. Berarti ada “ikatan batin” antara hamba Tuhan dan jemaat yang dilayaninya. “Ikatan batin” ini mengakibatkan jemaat Tuhan bukan egois memikirkan dan mendoakan dirinya sendiri, tetapi juga mendoakan para hamba Tuhan yang melayani agar Tuhan memberi kekuatan kepada mereka. Hamba Tuhan selain membutuhkan doa pribadi, juga membutuhkan doa jemaatnya, agar hamba Tuhan ini dikuatkan.

 

 

Lalu, apa yang menjadi alasan Paulus meminta dukungan doa kepada jemaat di Roma? Di ayat 31, ia menjelaskan, “supaya aku terpelihara dari orang-orang yang tidak taat di Yudea, dan supaya pelayananku untuk Yerusalem disambut dengan baik oleh orang-orang kudus di sana,” Ada dua alasan dan isi permintaan dukungan doa dari Paulus kepada jemaat di Roma, yaitu:

Pertama, agar Paulus dilepaskan dari orang-orang yang tidak percaya di Yudea. Permintaan Paulus yang pertama adalah agar ia dapat dilepaskan/terlepas dari orang-orang yang tidak percaya (unbeliever) di Yudea. Siapakah yang dimaksud Paulus dengan orang-orang yang tidak percaya ini? NIV Spirit of Reformation Study Bible menafsirkannya sebagai orang Yahudi. Matthew Henry di dalam Matthew Henry’s Commentary on the Whole Bible juga menafsirkannya sebagai orang Yahudi yang tidak percaya yang adalah musuh Paulus yang paling jahat. Dengan kata lain, permintaan Paulus pertama adalah agar ia dilepaskan dari cengkeraman orang-orang Yahudi di Yudea. Apakah permintaan Paulus ini termasuk permintaan yang manja? TIDAK. Tidak ada salahnya hamba Tuhan meminta jemaat Tuhan untuk berdoa agar Allah melepaskan hamba-Nya dari musuh. Apa motivasinya? Motivasinya agar ia boleh lebih leluasa dan luas memberitakan Injil. Kalaupun Allah berkehendak lain, itu kedaulatan-Nya. Kita pun juga demikian. Kita boleh berdoa memohon, seperti yang Tuhan Yesus ajarkan di dalam doa Bapa Kami, agar Allah menjauhkan kita dari pencobaan dan melepaskan kita dari yang jahat. Mengapa kita berdoa seperti itu? Kita berdoa seperti itu karena kita menyadari bahwa kita adalah manusia yang lemah dan berdosa, yang mudah jatuh ke dalam dosa. Doa seperti itu meminta agar Allah tidak membawa kita masuk ke dalam pencobaan, namun jika Allah berkehendak lain, maka kita berdoa agar Allah melepaskan kita dari yang jahat di dalam pencobaan itu dengan memberi kekuatan kepada kita untuk menanggungnya. Doa yang meminta ini TIDAK harus diartikan dengan memaksa Tuhan, tetapi harus dimengerti sebagai doa penyerahan diri sebagai wujud kebergantungan total kita kepada Allah. Paulus menyadari hal ini. Bagaimana dengan kita? Di dalam pelayanan kita, sudahkah kita berdoa kepada Tuhan agar Ia melepaskan kita dari halangan sesuai dengan kehendak-Nya? Ingatlah, kita adalah manusia yang lemah dan harus bergantung total kepada Allah. Berhati-hatilah, jika kita tidak pernah meminta sesuatu yang benar kepada Allah di dalam doa, itu sedang menunjukkan kita merasa diri tidak lemah dan tidak mau bergantung total kepada Allah.

 

Kedua, pelayanannya di Yerusalem disambut baik/diterima oleh orang-orang Kristen Yahudi di sana. Selain meminta agar pelayanannya dilepaskan dari orang-orang Yahudi yang tidak percaya, Paulus juga meminta agar pelayanannya di Yerusalem diterima oleh orang-orang Kristen Yahudi di sana. Berarti, ia ingin agar Allah dan kerajaan-Nya diperluas. Dengan kata lain, di titik pertama, motivasi Paulus murni di dalam melayani Tuhan yaitu memuliakan Allah dan Kerajaan-Nya. Sehingga pelayanan apa pun yang dikerjakannya TIDAK mementingkan apa yang dia suka, tetapi apa yang Tuhan suka dan apakah pelayanannya itu membuahkan hasil atau tidak. Inilah jiwa hamba Tuhan sejati. Hamba Tuhan sejati bukan hamba Tuhan yang suka memamerkan bakatnya yang luar biasa dan hebat, tetapi hamba Tuhan sejati adalah hamba Tuhan yang meninggikan Kristus di atas segala-galanya dan ajaran-ajarannya membuahkan hasil bagi pendengarnya. Berarti, dari sini, kita belajar dua poin penting lagi di dalam pelayanan:

Pertama, meninggikan Kristus. Pelayanan yang beres adalah pelayanan yang meninggikan Kristus, bukan meninggikan diri. Berarti, kita mengerjakan setiap aspek pelayanan dengan murni untuk memuliakan-Nya tanpa dicemari oleh satu motivasi yang berpusat kepada manusia. Ketika di dalam pelayanan, ada secuil motivasi tidak beres, itulah yang membahayakan pelayanan dan si pelayan. Lalu, bagaimana meninggikan Kristus di dalam pelayanan? Caranya adalah dengan melakukan dua sisi yang saling berkaitan: meninggikan Kristus dan merendahkan diri. Yohanes Pembaptis mengerti dengan tepat maksud ini dengan mengatakan, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yoh. 3:30) Pelayanan yang beres selalu meninggikan Kristus dan merendahkan diri. Pelayanan yang beres adalah pelayanan yang menginginkan nama Kristus dikenal dan dimasyurkan selama-lamanya, sedangkan nama si pelayan itu tidak dikenal, bahkan boleh dilupakan. Namun sayangnya, di abad ini, semua menjadi terbalik. Hamba Tuhan makin terkenal makin menonjolkan diri dan merendahkan Allah sebagai “jongos”nya yang tinggal diperintah-perintah. Hamba Tuhan seperti ini harus bertobat! Kita yang Kristen pun harus bertobat dari paradigma pelayanan yang berpusat kepada manusia ini.

Kedua, membuahkan hasil bagi pendengarnya. Wujud berikutnya dari meninggikan Kristus adalah pelayanan yang kita kerjakan membuahkan hasil bagi pendengarnya. Buah itu TIDAK harus berupa kuantitas/jumlah yang bisa dilihat, tetapi buah itu lebih ke arah buah secara esensial/inti. Seberapa signifikannya hasil dari pelayanan yang kita kerjakan bagi orang Kristen lain atau jemaat Tuhan. Apakah mereka menerima apa yang kita ajarkan dan melakukannya? Ataukah mereka hanya kelihatan menyetujui pengajaran kita, namun tidak pernah melakukannya? Hamba Tuhan dan orang Kristen yang melayani harus peka akan hal ini. Untuk melatih kepekaan ini, hamba Tuhan dan orang Kristen harus SALING BERSEKUTU, sehingga mereka saling mengerti kondisi iman, saling menguatkan, saling menegur, saling mengajar, dan saling menghibur di dalam Kristus. Hal kedua, buah pelayanan juga TIDAK harus terjadi pada saat kita melayani, tetapi buah pelayanan itu bisa terjadi lama setelah momen kita melayani. Kita mendapati bahwa ada seorang misionaris yang memberitakan Injil di suatu daerah, namun tidak ada satu penduduk pun yang bertobat. Namun, secara tidak sadar, Allah memakai keturunannya memberikan buah yang lebih dahsyat bagi daerah tersebut. Dengan kata lain, si misionaris itu sebagai penanamnya dan keturunannya sebagai penuainya. Jika si misionaris tidak menanam buahnya, maka keturunan si misionaris itu tidak mungkin bisa menuainya. Berarti, ada waktu Tuhan yang menggarap buah dari pelayanan kita. Tugas kita bukan mengharapkan buah itu terus-menerus, tetapi mengerjakan apa yang Tuhan perintahkan dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.

 

 

Apa tujuan dari permintaan Paulus itu? Di ayat 32, ia menjelaskan, “agar aku yang dengan sukacita datang kepadamu oleh kehendak Allah, beroleh kesegaran bersama-sama dengan kamu.” NIV Spirit of Reformation Study Bible menafsirkan ayat ini sebagai afirmasi pelayanan rasul/Paulus yang merupakan akibat dari alasan permohonannya di ayat 31. Dengan kata lain, tujuan permintaan Paulus adalah agar ketika ia datang ke Roma, ia bisa bersukacita dan disegarkan bersama dengan mereka. Ini membuktikan kedekatan Paulus dengan jemaat di Roma, meskipun jemaat Roma bukan didirikan oleh Paulus. Hamba Tuhan sejati adalah hamba Tuhan yang bersekutu dengan jemaatnya, sehingga ia bisa berbagi dengan jemaatnya dan jemaatnya bisa menguatkan. Akibatnya, hamba Tuhan ini bisa bersukacita dan disegarkan bersama dengan jemaatnya baik jemaat yang dilayaninya maupun jemaat lain. Mengapa ada hamba Tuhan stres? Karena hamba Tuhan ini kurang bersekutu dengan jemaat dan orang Kristen lain, lalu mengurung diri di dalam pastori gereja. Hamba Tuhan seperti ini tidak akan pernah bertumbuh di dalam iman dan karakter, meskipun ia menyandang gelar akademis theologi yang tinggi. Biarlah hamba Tuhan bertobat dari kebiasaan mereka yang gemar mengurung diri dengan kesibukan-kesibukan. Biarlah hamba Tuhan menjadi hamba Tuhan seperti Paulus yang bersekutu bersama jemaatnya dan jemaat Kristen lain, sehingga terbina suatu persekutuan yang harmonis yang saling bertumbuh di dalam pengenalan akan Kristus. Maukah Anda melakukannya?

 

 

Di ayat 33, Paulus memberikan berkatnya, “Allah, sumber damai sejahtera, menyertai kamu sekalian! Amin.” Melalui berkatnya, Paulus hendak mengingatkan jemaat di Roma dan kita bahwa kita bisa bersukacita dan disegarkan bersama bukan karena kehadiran kita atau siapa pun, tetapi kehadiran Allah sebagai Sumber Damai Sejahtera. Ia yang memberikan sukacita dan kesegaran terus-menerus di dalam setiap pelayanan yang kita lakukan. Tanpa Allah, pelayanan kita akan menjadi pelayanan yang menyesakkan dan memusingkan. Kekuatan-Nya menjadi kekuatan yang menolong dan menopang kita tatkala kita stres dan bingung. Sudahkah kita menyerahkan diri, hidup, dan pelayanan kita kepada Allah sebagai Sumber Damai Sejahtera kita?

 

 

Biarlah perenungan 4 ayat ini menyadarkan kita bahwa pelayanan kita tetap perlu didukung oleh bantuan doa baik dari sesama jemaat Tuhan, keluarga, saudara, dan rekan seiman agar pelayanan kita makin memuliakan Allah dan melebarkan Kerajaan-Nya. Amin. Soli Deo Gloria.

Seri Eksposisi Surat Roma 15:22-29: PELAYANAN SOSIAL YANG MEMULIAKAN ALLAH-1

March 28th, 2009 by tanenlai2005

Seri Eksposisi Surat Roma:

Penutup-5

 

 

Pelayanan Sosial yang Memuliakan Allah-1

 

oleh:Denny Teguh Sutandio

 

 

 

Nats: Roma 15:25-29

 

 

 

Sebelum ke Spanyol, Paulus mampir dahulu ke Yerusalem. Apa tujuannya? Di ayat 25-26, ia menjelaskan, “Tetapi sekarang aku sedang dalam perjalanan ke Yerusalem untuk mengantarkan bantuan kepada orang-orang kudus. Sebab Makedonia dan Akhaya telah mengambil keputusan untuk menyumbangkan sesuatu kepada orang-orang miskin di antara orang-orang kudus di Yerusalem.” Dari dua ayat ini, kita belajar bahwa Paulus mampir ke Yerusalem untuk mengantarkan bantuan dari orang-orang Kristen di Makedonia dan Akhaya untuk orang Kristen di Yerusalem. Mengapa orang-orang Kristen di Makedonia dan Akhaya memberi bantuan kepada orang Kristen di Yerusalem? Ada dua alasan. Alasan pertama ada di dua ayat ini dan alasan kedua ada di ayat selanjutnya. Alasan pertama adalah masalah kuantitas. New International Version (NIV) Spirit of The Reformation Study Bible memberikan keterangan bahwa orang Kristen di Yerusalem menderita karena mereka tergolong kaum minoritas, karena kaum mayoritas di sana adalah penganut Yudaisme/Yahudi. Dengan alasan ini, jemaat Tuhan di Makedonia dan Akhaya memutuskan untuk membantu jemaat Tuhan di Yerusalem. Luar biasa, semangat saling menolong sesama jemaat Tuhan ini. Bagaimana dengan kita? Kita sebagai orang Kristen yang hidup di Indonesia masih tergolong enak. Jika kita memperhatikan kondisi orang-orang Kristen di luar negeri, khususnya di negara-negara komunis, seperti RRT dan negara-negara yang agama mayoritasnya non-Kristen, seperti: Pakistan (Islam), India (Hindu), Thailand (Buddha), dll, kita akan mendapati kondisi mereka memprihatinkan. Buletin Kasih Dalam Perbuatan (KDP) yang diterbitkan oleh Voice of the Martyrs menceritakan kondisi malang mereka yang hidup di negara-negara demikian. Mereka disiksa, difitnah, gereja dihancurkan/dihalangi dengan segudang argumentasi yang tidak masuk akal (persis seperti di Indonesia), pendeta dibunuh, dll. Bagaimana reaksi kita? Kita sebagai orang Kristen di Indonesia kebanyakan cuek dengan kondisi mereka. Kita terlalu serakah memperkaya diri dan gereja kita sebagai pertanda “berkat Tuhan.” Sebagaimana yang dilakukan oleh jemaat di Makedonia dan Akhaya, marilah kita juga membantu sesama umat Tuhan yang hidup di negara-negara yang menyiksa mereka. Kita bisa membantu melalui dukungan dana, tenaga, doa, dll. Sudahkah kita melakukannya?

 

 

Alasan kedua mereka membantu jemaat di Yerusalem dipaparkan oleh Rasul Paulus sendiri di ayat 27, “Keputusan itu memang telah mereka ambil, tetapi itu adalah kewajiban mereka. Sebab, jika bangsa-bangsa lain telah beroleh bagian dalam harta rohani orang Yahudi, maka wajiblah juga bangsa-bangsa lain itu melayani orang Yahudi dengan harta duniawi mereka.” Di dalam ayat ini, Paulus mengatakan bahwa keputusan memberikan berkat jasmani kepada orang-orang Kristen di Yerusalem merupakan keputusan jemaat Tuhan di Makedonia dan Akhaya sendiri, tanpa ada unsur paksaan. Mengapa mereka bisa berbuat demikian? Alasan kedua adalah karena bangsa-bangsa lain telah mendapat harta rohani dari orang-orang Yahudi (bdk. Rm. 11:11-12), maka mereka pun harus memberikan harta duniawi kepada orang-orang Yahudi. Apa signifikansinya bagi kita? NIV Spirit of the Reformation Study Bible memberikan prinsip umum bagi ayat ini, yaitu ayat ini hendak mengajarkan kepada kita bahwa kita yang telah mendapat berkat rohani harus membagikan berkat jasmani mereka untuk orang lain. Apakah ada unsur timbal balik di dalamnya? Seolah-olah ya, tetapi sebenarnya tidak. Mengapa? Karena orang Kristen yang beres setelah menerima berkat rohani dari Allah dengan rela hati dan penuh syukur akan membagikan berkat jasmani kepada orang lain dan demi pelebaran Kerajaan-Nya di bumi ini. Dengan kata lain, intinya adalah kerelaan hati dan penuh syukur, bukan karena rasa bersalah atau timbal balik. Seorang yang merasa berutang budi atas kebaikan seseorang, lalu memberi balik sesuatu kepada orang lain, maka pemberian itu belum bisa dikategorikan tulus. Utang budi bukan tulus. Suatu pemberian bisa dikatakan tulus apabila pemberian itu dilakukan terlebih dahulu sebelum orang lain memberi sesuatu kepada kita dan pemberian itu tentunya bukan berdasarkan apa yang kita suka, tetapi apa yang orang lain suka. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita memberi dengan ketulusan dan penuh rasa syukur kepada Allah?

 

 

Setelah menyerahkan hasil usaha dari para jemaat Tuhan di Makedonia dan Akhaya, Paulus mengatakan bahwa ia akan pergi ke Spanyol melalui Roma (ay. 28). Ketika ia pergi ke sana, ia mengatakan, “Dan aku tahu, bahwa jika aku datang mengunjungi kamu, aku akan melakukannya dengan penuh berkat Kristus.” (ay. 29) King James Version (KJV) menerjemahkannya, “And I am sure that, when I come unto you, I shall come in the fulness of the blessing of the gospel of Christ.” (=Dan aku yakin bahwa, ketika aku datang kepadamu, aku akan datang dengan kepenuhan berkat dari Injil Kristus.) New International Version (NIV) menerjemahkannya, “I know that when I come to you, I will come in the full measure of the blessing of Christ.” (=Aku tahu bahwa ketika aku datang kepadamu, aku akan datang dengan kepenuhan berkat Kristus.) Analytical-Literal Translation (ALT) menerjemahkannya, “But I know that coming to you*, I will come in [the] fullness of [the] blessing of the Gospel of Christ.” (=Tetapi aku tahu bahwa waktu aku datang kepadamu, aku akan datang dengan kepenuhan berkat dari Injil Kristus.) Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari ayat ini:

Pertama, “aku tahu.” Di ayat ini, Paulus mengatakan, “Dan aku tahu.” Albert Barnes di dalam tafsirannya Albert Barnes’ Notes on the Bible menyatakan bahwa pernyataan ini menunjukkan keyakinan Paulus yang kuat akan kesuksesan pelayanannya di mana saja. Berarti ada kepuasan tersendiri ketika Paulus telah selesai menunaikan pelayanannya. Bagaimana dengan kita? Kepada kita, Allah telah mempercayakan pelayanan yang beragam. Bagaimana kita melakukan pelayanan itu? Dengan sukacita atau bersungut-sungut? Setelah itu, apakah kita cukup puas dan bersukacita setelah kita menunaikan tugas pelayanan kita? Di satu sisi, memang, kita tidak boleh cepat puas dengan apa yang kita capai khususnya di dalam pelayanan, tetapi di sisi lain, kita dituntut puas dan bersukacita karena kehendak-Nya sudah kita jalankan dengan bertanggungjawab. Kepuasan dan sukacita kita ini merupakan wujud rasa syukur kita kepada-Nya yang telah memanggil kita melayani-Nya dan menguatkan kita di dalam pelayanan tersebut.

 

Kedua, “aku melakukannya dengan penuh berkat Kristus.” Setelah puas akan sesuatu yang telah ia capai, biasanya manusia (tidak terkecuali beberapa atau mungkin banyak orang Kristen dan pemimpin gereja) akan merasa sombong. Mereka berpikir bahwa pencapaian mereka itu adalah akibat kerja keras mereka. Apakah ini juga terjadi pada Paulus? TIDAK! Puji Tuhan, Paulus bukan tipe orang yang sombong setelah ia berhasil melayani Tuhan di mana-mana, namun ia adalah rasul Kristus yang rendah hati. Ia tetap mengakui bahwa pencapaiannya terjadi karena ada berkat Kristus. Ada sedikit perbedaan terjemahan tentang pernyataan ini. Seperti yang sudah saya kutip di atas: dua terjemahan (KJV dan ALT) menerjemahkannya sebagai berkat dari Injil Kristus, sedangkan terjemahan NIV memakai kata berkat Kristus. Terjemahan Indonesia dari teks Yunaninya adalah berkat Kristus. (Hasan Sutanto, 2003, hlm. 877) Vincent’s Word Studies memberikan keterangan bahwa kata “Injil” di dalam “berkat Injil Kristus” dihilangkan, sehingga menjadi: berkat Kristus. Adam Clarke di dalam Adam Clarke’s Commentary on the Bible memaparkan bahwa kepenuhan berkat Kristus lebih besar dari kepenuhan berkat Injil Kristus. Oleh karena itu, menurut Clarke, Paulus datang ke Roma bukan hanya dengan berkat Injil, namun juga dengan karunia dan anugerah dari Tuhan Yesus yang telah memanggilnya menjadi rasul-Nya. Di sini, kita melihat tafsiran Clarke cukup bertanggungjawab, karena yang menjadi inti pelayanan Paulus bukan apa yang diberitakannya, tetapi siapa yang diberitakannya, yaitu Kristus sendiri! Injil Kristus tidak akan berarti apa-apa tanpa Kristus yang beraksi. Begitu juga dengan pelayanan Paulus. Pelayanan Paulus tidak akan berarti apa-apa jika tanpa anugerah Kristus yang terus menguatkan dan menopangnya, sehingga meskipun harus menderita, Paulus tetap setia melayani-Nya. Bagaimana dengan kita? Pelayanan yang kita kerjakan sungguhkah berpusat kepada Kristus dan memuliakan-Nya saja? Biarlah kita mengintrospeksi diri kita.

 

 

Setelah merenungkan lima ayat di atas, bagaimana respons kita? Ketika kita melayani Tuhan, sungguhkah pelayanan itu berpusat kepada Allah, melayani orang lain, dan memuliakan Allah? Jangan pernah menomersatukan diri dan kehendak diri ketika kita melayani-Nya! Utamakan Allah dan kehendak-Nya terlebih dahulu, baru orang lain. Amin. Soli Deo Gloria.

Seri Eksposisi Surat Roma 15:22-24: PELAYANAN YANG DIPIMPIN ALLAH

March 21st, 2009 by tanenlai2005

Seri Eksposisi Surat Roma:

Penutup-4

 

 

Pelayanan yang Dipimpin Allah

 

oleh:Denny Teguh Sutandio

 

 

 

Nats: Roma 15:22-24

 

 

 

Setelah menjelaskan tentang pelayanannya, ia menyampaikan salam perpisahannya mulai ayat 22 ini. Salam perpisahan pada bagian pertama yang akan kita soroti adalah mengenai keinginannya bertemu dengan jemaat di Roma. Apa signifikansi ayat 22 s/d 24 ini? Mari kita analisa.

 

 

Di ayat 20-21, Paulus sudah mengatakan bahwa ia diutus untuk memberitakan Injil kepada orang-orang non-Yahudi. Karena panggilan inilah, ia rela tidak mengunjungi jemaat Roma. Hal ini diungkapkannya di ayat 22, “Itulah sebabnya aku selalu terhalang untuk mengunjungi kamu.” Kata “terhalang” di dalam struktur bahasa Yunani menggunakan bentuk pasif. Dengan kata lain, Paulus terhalang (dihalangi) untuk mengunjungi jemaat Roma karena pelayanannya untuk orang-orang non-Yahudi di Ilirikum (ay. 19-21). Kalau kita melihat kembali di pasal-pasal awal surat Roma (Rm. 1:8-10), di situ, Paulus berkeinginan mengunjungi jemaat di Roma karena ia telah mendengar berita tentang iman jemaat Roma. Maka di pasal menjelang terakhir, Paulus kembali mengingat itu dan mengatakan kepada jemaat Roma bahwa ia masing ingin datang ke Roma untuk melihat jemaat di sana. Di sini, Paulus lebih mementingkan pekerjaan Tuhan (memberitakan Injil) ketimbang keinginan pribadinya (mengunjungi jemaat Roma). Meskipun dua-dua itu baik, tetapi ia lebih mementingkan tugas pemberitaan Injil di Ilirikum ketimbang mengunjungi jemaat Roma. Inilah hamba Tuhan yang sejati. Hamba Tuhan sejati bukan lebih mementingkan apa yang mengenakkan di dalam pelayanannya, tetapi hamba Tuhan sejati adalah mereka yang lebih mementingkan panggilan dan tugas dari Allah dan mengesampingkan hal-hal sekunder yang kurang penting. Ketika kita diperhadapkan dengan dua kegiatan yang kelihatan sama-sama baik seperti kasus Paulus ini, apa reaksi kita? Misalnya, kita harus memberitakan Injil kepada seseorang atau kita menolong orang yang kekurangan, mana yang harus kita pilih? Beberapa kaum penganut “theologi” religionum bisa dipastikan akan memilih opsi kedua, yaitu menolong mereka yang kekurangan, karena bagi mereka jasmani lebih penting daripada rohani. Memang aneh kedengarannya, tetapi itu realitasnya. Lalu, bagaimana sikap orang Kristen dan hamba Tuhan sejati? Pekalah terhadap kehendak Tuhan. Jika Ia memimpin kita dengan jelas untuk memberitakan Injil, lakukanlah, tetapi jika Tuhan memimpin kita memilih opsi kedua, lakukannya, prinsipnya: TAAT, bukan mana yang mengenakkan kita. Biarlah ini mengoreksi diri dan pelayanan yang kita lakukan. Sudahkah kita menomersatukan Allah dan kehendak-Nya di dalam kehidupan dan pelayanan kita?

 

 

Setelah itu, Paulus kembali peka terhadap pimpinan Tuhan. Jika dahulu, ia dipimpin Tuhan memberitakan Injil kepada orang-orang di Ilirikum, saat ini, ia dipimpin Tuhan untuk meninggalkan Ilirikum dan kembali ke Roma. Perhatikan apa yang dikatakannya di ayat 23, “Tetapi sekarang, karena aku tidak lagi mempunyai tempat kerja di daerah ini dan karena aku telah beberapa tahun lamanya ingin mengunjungi kamu,” “Tempat kerja” yang dimaksud Paulus adalah di Ilirikum (ay. 19). Ketika Tuhan memimpin Paulus untuk berhenti memberitakan Injil di Ilirikum dan pergi ke Roma, ia taat dan berusaha keras mengunjungi jemaat di Roma (ay. 24). Kita akan melihatnya nanti di ayat 24. Kembali, jika kita melihat rangkaian penginjilan yang Paulus lakukan, tidak sedikitpun waktu yang ia sia-siakan di luar pimpinan Tuhan. Ia sangat peka melihat kehendak Tuhan. Kalau kita melihat kembali kisahnya di Kisah Para Rasul 16:9, kita dapat mengerti bahwa Paulus adalah rasul Kristus yang peka terhadap pimpinan Tuhan. Pada waktu itu, ia mendapat penglihatan seorang Makedonia yang memanggilnya. Dari situ, ia langsung tanggap bahwa itu pimpinan-Nya memberitakan Injil di Makedonia. Lalu, bagaimana tanggapan orang-orang Makedonia? Di ayat 13-15, Paulus memang diterima pertama kalinya oleh Lidia, penjual kain ungu dari kota Tiatira di Filipi tersebut, tetapi setelah itu, Paulus mengalami penderitaan karena memberitakan Injil Kristus (baca mulai ayat 16-40). Ya, pimpinan Tuhan bagi pelayanan kita tidak selalu mengenakkan. Ia memimpin kita terus melayani-Nya sesuai dengan kehendak dan waktu-Nya. Ia memimpin kita jauh di luar pemikiran kita. Ketika Ia memimpin kita meninggalkan suatu tempat pelayanan, sanggupkah kita taat? Ataukah kita beradu argumentasi dengan-Nya bahwa tempat pelayanan kita dahulu adalah tempat pelayanan di mana kita bisa melayani Tuhan dengan lebih dahsyat? Tuhan tidak menunggu seberapa hebat kita beradu argumentasi dengan-Nya, tetapi Ia menuntut kita TAAT mutlak di dalam setiap pelayanan yang Ia telah percayakan kepada kita. Ia yang memungkinkan kita dapat dan layak melayani-Nya, sudah seharusnya kita sebagai budak-Nya TAAT mutlak kepada Tuhan yang memberikan kelayakan kepada kita untuk melayani-Nya. Relakah kita TAAT?

 

 

Pimpinan Tuhan bagi Paulus untuk mengunjungi Roma membuat Paulus bersikeras memakai segala cara untuk bertemu dengan mereka. Ia berjanji untuk mengunjungi Roma. Hal ini dikatakannya di ayat 24, “aku harap dalam perjalananku ke Spanyol aku dapat singgah di tempatmu dan bertemu dengan kamu, sehingga kamu dapat mengantarkan aku ke sana, setelah aku seketika menikmati pertemuan dengan kamu.” Jika kita bandingkan terjemahan yang kurang enak dibaca ini dengan terjemahan Inggris, kita mendapatkan pengertian yang lebih jelas. Di ayat ini, maksud Paulus adalah ia hendak pergi ke Spanyol, tetapi sebelum ke Spanyol, ia menyempatkan dirinya untuk mengunjungi jemaat Roma dan bertemu dengan mereka sehingga mereka dapat menemaninya ke Spanyol. Albert Barnes di dalam tafsirannya Albert Barnes’ Notes on the Bible memberikan keterangan mengenai ayat ini. Barnes mengatakan bahwa daerah Spanyol zaman Paulus meliputi gabungan Kerajaan-kerajaan modern dari Spanyol dan Portugal yang kemudian tunduk di bawah kekuasaan Roma. Oleh karena itu, ketika ia hendak ke Spanyol, ia mampir bertemu dengan jemaat di Roma sekaligus untuk menemani Paulus ke Spanyol yang waktu itu berada di bawah kekuasaan Roma. Paulus tidak bermaksud menjadikan jemaat Roma sebagai teman mengobrol dan mengantarkannya ke Spanyol. Inti ayat ini sebenarnya adalah ia sangat rindu mengunjungi jemaat di Roma dan ingin berbagi berkat dengan mereka, sehingga ia mau jemaat Roma menemaninya ke Spanyol. Itulah yang bisa membuat Paulus senang. Lebih lanjut, Barnes mengatakan bahwa ia ragu apakah Paulus akan menyelesaikan perjalanannya ke Spanyol. Mengapa? Karena setelah penangkapannya pada waktu Paulus dibawa menghadap Nero, ia tinggal di Spanyol hanya 2 tahun. Keinginannya untuk mengunjungi jemaat Roma begitu besar, sehingga ia rela singgah di Roma sebelum melanjutkan perjalanannya lagi. Pimpinan Tuhan mengakibatkan kita berapi-api mengerjakannya, seperti yang Paulus lakukan ini. Tuhan menggerakkan dan memimpin Paulus mengunjungi jemaat Roma, oleh karena itu, ia sangat bersemangat. Bagaimana dengan kita? Ketika Ia memimpin kita, Ia memberikan api kuasa Roh Kudus kepada kita di dalam melayani-Nya. Ketika api itu kita rasakan, kita harus bersemangat melayani-Nya di tempat yang Ia pimpin. Para nabi dan rasul Tuhan di Alkitab sudah mengalami, sekarang giliran kita, alami api kuasa Roh Kudus yang membakar hati dan semangat kita di dalam melayani-Nya.

 

 

Setelah kita belajar tentang pelayanan yang berpusatkan pada kehendak Allah, bagaimana reaksi kita? Taat ataukah membandel? Tuhan ingin kita melayani-Nya dengan kesungguhan dan kemurnian hati sebagai respons terhadap anugerah yang telah Ia berikan. Biarlah Roh Kudus terus membakar hati kita di dalam melayani-Nya. Amin. Soli Deo Gloria.

Seri Eksposisi Surat Roma 15:20-21: KONSEP PELAYANAN SEJATI-3: Pemberitaan Injil & Sentralitas Kristus

March 7th, 2009 by tanenlai2005

Seri Eksposisi Surat Roma:

Penutup-3

 

 

Konsep Pelayanan Sejati-3: Pemberitaan Injil dan Sentralitas Kristus

 

oleh:Denny Teguh Sutandio

 

 

 

Nats: Roma 15:20-21

 

 

 

Konsep pelayanan yang kedua dari Paulus adalah pelayanan sejati adalah pelayanan yang berpusat kepada Kristus melalui pemberitaan Injil yang ia lakukan. Hal ini dipaparkan Paulus di ayat 20 s/d 21.

 

 

Selain oleh kuasa Roh Kudus, Paulus tetap memberitakan Injil dengan berfokus kepada Kristus sebagai inti berita utama Injil. Di ayat 20, ia mengatakan hal ini, “Dan dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, di mana nama Kristus telah dikenal orang, supaya aku jangan membangun di atas dasar, yang telah diletakkan orang lain,” Mungkin jika kita membaca terjemahan bahasa Indonesia, kita akan kebingungan dengan struktur kalimat dan artinya. Ada baiknya kita membaca terjemahan bahasa Inggris. International Standard Version (ISV) menerjemahkannya, “My one ambition is to proclaim the gospel where the name of Christ is not known, lest I build on someone else’s foundation.” (satu ambisiku adalah untuk memberitakan Injil di mana nama Kristus tidak/belum dikenal, supaya aku jangan membangun di atas dasar orang lain) Di ayat ini, Paulus hendak mengajar kita beberapa hal penting tentang pelayanan penginjilan yang ia lakukan:

Pertama, Paulus berambisi memberitakan Injil. Di dalam bahasa Yunani, kata ini adalah philotimeomaiyang bisa diterjemahkan strive (berusaha keras) atau bisa diterjemahkan kehormatan. Ia bukan hanya bergantung pada kuasa Roh Kudus di dalam pelayanannya, ia sendiri berusaha keras memberitakan Injil. Atau dengan kata lain ia berambisi memberitakan Injil. Luar biasa, ia “BERAMBISI” memberitakan Injil. Dunia kita adalah dunia postmodern yang sarat dengan semangat relativisme, humanisme, dan pragmatisme. Tidak heran yang didengungkan adalah kemauan dan kehebatan diri atau menggunakan istilah kerennya “AMBISI.” Ambisi menjadi tren dan gaya hidup zaman kita, bahkan beberapa (atau bahkan banyak?) orang Kristen pun sudah mulai diracuni dengan gaya hidup ini. Mereka suka berambisi melakukan apa pun demi kepuasan diri, meskipun secara KTP, mereka mengaku diri “Kristen.” Tetapi herannya, kalau untuk pekerjaan Tuhan, mereka malas bahkan tidak berambisi sama sekali. Mengapa? Karena ambisinya sudah diserahkan untuk hal-hal yang sementara. Patutkah mereka disebut “Kristen”? TIDAK! Mereka secara KTP mengaku diri “Kristen”, tetapi secara esensi dan hati, mereka tidak ada bedanya dengan orang dunia yang berambisi melakukan apa yang mereka sukai. Berbeda dari konsep manusia postmodern, Paulus yang meneladani Kristus TIDAK pernah berambisi memperluas kerajaan atau pengaruhnya, tetapi berambisi memberitakan Injil. Di dalam penginjilan, ia mengutamakan berita tentang Kristus (hanya Kristus/Solus Christus). Inilah jiwa seorang hamba Tuhan sejati. Hamba Tuhan sejati TIDAK berambisi memperluas gerejanya dengan alasan pertumbuhan gereja (church growth) tetapi dengan pengajaran yang sembrono dan tidak berdasar. Hamba Tuhan sejati TIDAK berambisi mengeduk keuntungan pribadi dari jemaat dengan memanipulasi berita di mimbar. Hamba Tuhan sejati TIDAK berambisi menyamarkan (atau menghilangkan) inti berita Injil, lalu mengatakan bahwa semua agama itu sama. Hamba Tuhan sejati HARUS memiliki AMBISI yang kudus yang berpusat kepada Allah dan pekerjaan-Nya, yaitu pemberitaan Injil. Bagaimana dengan kita yang melayani Tuhan di rumah Tuhan? Sudahkah kita memiliki ambisi memberitakan Injil? Sungguh ironis jika ada hamba Tuhan yang tidak berambisi untuk memberitakan Injil, tetapi berambisi untuk hal-hal duniawi? Marilah kita bertobat dan kembalilah kepada Kristus dan panggilan kita mula-mula sebagai hamba-Nya yang setia!

 

Kedua, Paulus berambisi memberitakan Injil di tempat di mana Kristus belum diberitakan. Paulus bukan hanya berambisi memberitakan Injil, tetapi ia berambisi memberitakan Injil di tempat di mana Kristus belum diberitakan. Apa signifikansi tambahan “di tempat di mana Kristus belum diberitakan”? Apa alasannya? Pada kalimat berikutnya, ia mengatakan alasannya yaitu agar dia tidak membangun di atas dasar yang telah diletakkan orang lain. Orang lain di dalam ayat ini berarti para rasul Kristus lain yang telah memberitakan Injil di suatu daerah. Misalnya, Petrus sudah memberitakan Injil di X, maka Paulus TIDAK akan memberitakan Injil di kota X itu, tetapi dia akan menginjili di daerah Y. Mengapa? Karena ia tidak mau membangun di atas dasar yang telah diletakkan orang lain. Dengan kata lain, yang menjadi ambisinya di dalam pelayanan penginjilan adalah Kristus saja, bukan diri dan pengaruhnya. Di dalam pelayanan penginjilan yang kita lakukan, siapa yang paling kita banggakan? Kristus atau diri kita? Berapa banyak kita yang memberitakan Injil, yang kita banggakan justru kita yang pintar beradu argumentasi dan logika dengan orang yang kita injili, tetapi tidak pernah membawa mereka kepada Kristus? Kita mengatakan bahwa kita memberitakan Injil, tetapi yang kita terus-menerus beritakan adalah kesaksian dan kehebatan kita. Itu bukan penginjilan! Sudah saatnya, orang Kristen dan hamba Tuhan sejati memberitakan Injil dengan berpusat kepada Kristus, bukan kehebatan diri dan pengaruh yang meluas. Jika Tuhan memberkati pelayanan kita melalui jangkauan pelayanan kita yang luas, itu adalah anugerah Tuhan dan jangan pernah membanggakan diri, serta jangan merebut kemuliaan Tuhan! Teladanilah Paulus (bdk. 2Kor. 10:15-16).

 

 

Apa yang mendasari Paulus memiliki ambisi memberitakan Injil? Dorongan orang lain atau keuntungan pribadi? TIDAK! Ia berambisi memberitakan Injil didasari oleh kasih kepada manusia berdosa yang belum mendengar Injil. Hal ini dipaparkannya di dalam ayat 21, “tetapi sesuai dengan yang ada tertulis: “Mereka, yang belum pernah menerima berita tentang Dia, akan melihat Dia, dan mereka, yang tidak pernah mendengarnya, akan mengertinya.”” Ayat ini dikutip dari Yesaya 52:15 yang menunjuk kepada penggenapannya di dalam Kristus. Kasih bagi manusia berdosa yang belum mendengar Injil inilah yang mendorongnya memberitakan Injil bukan hanya untuk orang Yahudi, tetapi untuk orang-orang non-Yahudi. Orang-orang Yahudi ini disebut Paulus sebagai orang yang belum pernah menerima berita tentang Kristus dan tidak pernah mendengarnya. Kepada orang-orang inilah, ia memberitakan Injil, untuk apa? Agar mereka yang belum pernah menerima berita tentang Kristus dapat melihat Dia. “Melihat” di sini bukan secara harfiah, tetapi secara rohani. Meskipun orang-orang non-Yahudi belum pernah menerima berita tentang Kristus, tetapi setidaknya di Injil disebutkan bahwa ada salah seorang perwira Romawi yang datang kepada Kristus untuk meminta agar hambanya disembuhkan. (Mat. 8:5) Seperti Kristus telah menjangkau orang non-Yahudi, Paulus pun juga terbeban menjangkau lebih banyak orang non-Yahudi demi Injil Kristus. Oleh karena itu, ia mau agar mereka yang belum pernah menerima berita tentang Kristus, akan melihat-Nya secara rohani. Kedua, ia juga terbeban membawa orang-orang non-Yahudi yang tidak pernah mendengarnya akan mengerti Injil Kristus. Paulus tidak ingin orang-orang non-Yahudi hanya melihat Dia secara rohani, tetapi juga mendengar Injil dan mengertinya. Mengapa kata “mengerti” ini menjadi signifikan? Karena kata ini dikenakan pada orang-orang non-Yahudi (khususnya Yunani) yang menekankan pentingnya logika. Kekristenan dan pemberitaan Injil bukan hanya memberitakan Injil Kristus saja, tetapi juga menantang logika orang yang diinjili agar pikiran mereka ditundukkan di bawah Kristus. Sayang sekali, penginjilan zaman sekarang adalah penginjilan yang dangkal yang tidak sanggup menaklukkan pikiran orang-orang pandai di bawah Kristus dengan bahasa yang sederhana namun mendalam. Hamba-Nya yang setia, Pdt. Dr. Stephen Tong telah, sedang, dan akan melakukan hal ini di dalam setiap kebaktian penginjilan yang beliau adakan. Tujuannya agar Injil Kristus jangan dihina oleh para intelektual sebagai sesuatu yang dangkal. Paulus sudah membuktikan bahwa Injil juga mampu menguasai dan menaklukkan pikiran manusia yang paling pintar. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita terbeban memberitakan Injil kepada guru, dosen, profesor, dan para intelektual lainnya? Sebagaimana Tuhan telah memakai Paulus, Agustinus, Dr. Martin Luther, Dr. John Calvin, Pdt. Dr. Stephen Tong, dll untuk memberitakan Injil yang menaklukkan rasio manusia berdosa di bawah Kristus, Allah yang sama yang mengutus mereka juga mengutus kita untuk menunaikan mandat Injil yang sama, siapkah kita?

 

 

Biarlah perenungan dua ayat yang singkat ini mendorong dan membakar semangat Anda dalam memberitakan Injil Kristus. Amin. Soli Deo Gloria.

Seri Eksposisi Surat Roma 15:17-19: KONSEP PELAYANAN SEJATI-2: Sukacita Pelayanan-1

February 21st, 2009 by tanenlai2005

Seri Eksposisi Surat Roma:

Penutup-2

 

 

Konsep Pelayanan Sejati-2: Sukacita Pelayanan-1

 

oleh:Denny Teguh Sutandio

 

 

 

Nats: Roma 15:17-19

 

 

 

Konsep pelayanan yang kedua dari Paulus adalah pelayanan sejati adalah pelayanan yang berpusat kepada Kristus melalui kuasa Roh Kudus. Hal ini dipaparkan Paulus di ayat 17 s/d 19.

 

 

Di ayat 17, sebagai kesimpulan dari ayat 14 s/d 16, Paulus mengajarkan, “Jadi dalam Kristus aku boleh bermegah tentang pelayananku bagi Allah.” Sebagai penutup, Paulus kembali mengingatkan jemaat Roma dan kita juga tentang konsep pelayanan. Tidak sedikit kita menjumpai orang Kristen yang melayani tidak dengan jiwa hamba, tetapi dengan jiwa majikan. Akibatnya, ketika melayani, sebenarnya kita lah yang dilayani dan dipuaskan, karena kita ingin mencari pamor di lingkungan/gereja tempat kita melayani. Paulus menyadarkan jemaat Roma dan kita bahwa pelayanan bukan memegahkan diri, tetapi memegahkan Kristus. Pelayanan yang ia lakukan bagi Allah adalah pelayanan yang bermegah di dalam Kristus. Di dalam Filipi 3:3, ia juga menguraikan bahwa jemaat Filipi (dan kita) tidak hidup menurut hal-hal lahiriah, tetapi hal-hal spiritual, yaitu bermegah di dalam Kristus. Kata “bermegah” di dalam Roma 15:17 dan Filipi 3:3 memiliki akar kata Yunani yang sama, yaitu kauchaomai yang berarti bermegah (boast), bersukacita (rejoice), dll. Berarti hidup dan pelayanan kita ditujukan untuk memuliakan Allah dan menikmati Dia. Rev. Dr. John S. Piper di dalam bukunya Desiring God mengganti kata “dan” pada pernyataan Katekismus Singkat Westminster Pasal 1 tadi dengan kata “dengan.” Dengan kata lain, hidup dan pelayanan kita adalah untuk memuliakan Allah dengan menikmati-Nya. Ya, menikmati Dia adalah sukacita hidup dan pelayanan kita. Mengapa sering kali kita melayani Tuhan dengan bersungut-sungut? Karena kita kurang menikmati Dia sebagai sukacita terbesar, seperti Paulus. Ketika kita mulai menikmati Dia sebagai sukacita terbesar, di saat pula kita semakin bersemangat dan bersukacita di dalam melayani Tuhan (bdk. Rm. 12:11). Sukacita itu dapat kita nikmati karena kita telah ditebus oleh Kristus dan dilahirbarukan oleh Roh Kudus. Seorang yang telah mengalami kelahiran baru dari Roh Kudus dan penebusan dari Kristus adalah orang yang bersukacita, karena dia telah dilepaskan dari perbudakan dosa yang membelenggu hidupnya dahulu. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita bersukacita di dalam hidup dan pelayanan kita kepada Tuhan?

 

Prinsip sukacita di dalam pelayanan kita adalah karena kita sudah ditebus oleh Kristus, maka segenap hidup kita dipergunakan untuk melayani-Nya, oleh sebab itu, tidak ada kata “terpaksa” di dalam hidup dan pelayanan kita ketika kita harus menderita bagi-Nya. Paulus rela menderita tatkala ia harus memberitakan Injil (2Kor. 11:24-27). Semuanya itu dilakukan bagi Allah dan dia bermegah (bersukacita) di dalam Kristus. Kepada jemaat di Filipi, dia menulis surat yang penuh dengan sukacita, meskipun pada waktu itu dia ada di dalam penjara (Flp. 1:13). Meskipun harus menderita, Paulus tetap bisa bersukacita, mengapa? Apa dia hanya berhalusinasi? TIDAK. Paulus bisa bersukacita di dalam penderitaan karena ia berharap penuh kepada Allah (2Tim. 1:12). Bagaimana dengan kita yang mengalami penderitaan? Himpitan dan tekanan hidup terus-menerus mengganggu dan mencengkeram hidup kita waktu demi waktu, adakah kita tetap bersukacita dengan terus berharap dan beriman kepada-Nya? Jangan kuatir, serahkanlah hidup kita kepada-Nya, maka Ia akan memelihara hidup kita selama-lamanya. Amin?

 

 

Apa wujud sukacita Paulus di dalam Kristus melalui pelayanannya? Ia menunjukkan sukacita di dalam pelayanannya di dalam Kristus tatkala ia dengan taat mutlak memberitakan karya penebusan Kristus (dan bukan yang lain) kepada bangsa-bangsa lain melalui perkataan dan perbuatan serta melalui kuasa Roh Kudus (ay. 18-19a). Di ayat ini, ia menjabarkan tiga wujud sukacita pelayanannya di dalam Kristus:

Pertama, sukacita pelayanannya di dalam Kristus ditunjukkan melalui ketaatannya memberitakan Injil Kristus. Di ayat ini, ia berkata, “Sebab aku tidak akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain, kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus olehku,” Berarti, sukacita pelayanannya diukur dari ketaatannya memberitakan Injil Kristus dan bukan yang lain. Ia dengan jujur mengatakan bahwa ia tidak akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain. Berarti dia tidak akan pernah mau memberitakan hal-hal di luar Injil dan karya Kristus yang harus ia beritakan kepada bangsa-bangsa lain. Itu namanya TAAT. Mengapa sering kali pelayanan kita tidak dilakukan dengan sukacita? Karena kita berpikir bahwa kita melayani Tuhan itu adalah suatu tugas berat. Padahal, ketika kita yang adalah anak-anak Tuhan yang telah ditebus Kristus, diperkenan oleh Tuhan untuk melayani-Nya adalah suatu hak istimewa yang besar sekali yang tidak bisa didapatkan oleh orang-orang di luar umat pilihan. Kedua, kita tidak bersukacita ketika melayani karena kita tidak TAAT. Di dalam pelayanan, kita melayani bukan dengan jiwa hamba, tetapi dengan jiwa majikan yang suka memerintah orang-orang untuk melayani kita. Ketika kita melakukan hal itu, kita bukan melayani, tetapi dilayani. Pelayanan tanpa ketaatan adalah suatu kesia-siaan. Apakah cukup taat saja? TIDAK. Ketaatan harus disertai dengan kerelaan penuh dan berkaitan dengan kepada siapa kita taat dan rela. Ketika kita “taat” kepada Mamon (dewa uang), kita rela menyerahkan hidup kita kepadanya. Objek ketaatan mengakibatkan sikap hati kita. Umat pilihan adalah orang yang seharusnya taat dan rela hanya kepada kehendak Allah. Paulus adalah salah satu contoh yang harus kita teladani tentang taat kepada kehendak Allah. Apa itu kehendak Allah yang harus kita taati? Yaitu memberitakan Injil (Mat. 28:19-20). Kalau Paulus bisa taat kepada kehendak Allah, bagaimana dengan kita? Beranikah kita dengan sepenuh hati taat dan rela kepada kehendak-Nya?

 

Kedua, sukacita pelayanannya di dalam Kristus ditunjukkan melalui ketaatannya menjadi saksi Kristus melalui perkataan dan perbuatan. Berarti bukan penginjilan saja yang harus diperhatikan, tetapi sikap hidup kita. Penginjilan yang Paulus ajarkan meliputi dua hal: penginjilan verbal (perkataan) dan penginjilan non-verbal (perbuatan). Dengan kata lain, penginjilan bukan menjadi penginjilan yang timpang, tetapi penginjilan yang terintegrasi. Apa yang menyebabkan Paulus bisa mengintegrasikan dua konsep tersebut? Kuncinya adalah kerendahan hati. Paulus adalah seorang rasul Kristus yang luar biasa cerdas, namun kecerdasannya tidak mengakibatkan dia menjadi sombong, tetapi rendah hati. Ia rela menyamakan dirinya sebagai orang berdosa, bahkan lebih berdosa dari mereka (1Tim. 1:15-16). Kerendahan hatinya mengakibatkan ia mampu memadukan penginjilan melalui perkataan dan perbuatan. Bagaimana dengan kita? Beberapa orang Kristen dan hamba Tuhan yang sudah banyak belajar theologi melalui literatur mengakibatkan beberapa dari mereka menjadi sombong, karena merasa diri sudah pintar beradu argumen theologi. Mereka menjadi kebal terhadap kritikan, meskipun di atas mimbar berbicara tentang teachable (dapat diajar). Mereka memakai segudang argumentasi untuk menutupi kesalahannya, misalnya dengan mengatakan bahwa kalau mau mengkritik, si pengkritik harus melakukannya dahulu. Sudah saatnya orang Kristen bertobat dari kesombongan ini! Seberapa rendah hatikah kita sebagai anak-anak-Nya di dalam melayani-Nya? Ketika kita belajar rendah hati, di saat yang sama kita menjadi saksi Kristus yang mampu mengintegrasikan penginjilan perkataan dan perbuatan. Tuhan tidak mau kita terpecah di dalam penginjilan yang terlalu mementingkan salah satu aspek.

 

Ketiga, sukacita pelayanannya di dalam Kristus ditunjukkan melalui kuasa Roh Kudus. Kita bisa bersukacita di dalam pelayanan karena ada kuasa Roh Kudus. Kuasa Roh Kudus memampukan kita terus bersukacita di dalam pelayanan, meskipun harus mengalami penderitaan. Kuasa itu ditunjukkan melalui tanda-tanda mukjizat (ay. 19a) maupun pemberitaan Firman. Kuasa Roh Kudus jangan dibatasi oleh gejala-gejala supranatural. Kuasa Roh Kudus adalah kuasa yang dikerjakan Allah Roh Kudus seturut firman-Nya di dalam Alkitab, karena Roh Kudus diutus untuk memuliakan Kristus (Yoh. 15:26; 16:14). Roh Kudus bisa bekerja melalui mukjizat dan bisa juga bekerja tanpa melalui mukjizat yang dapat dilihat mata. Roh Kudus yang tidak bekerja melalui mukjizat nyata (kasat mata) adalah Roh Kudus yang memberikan kekuatan kepada setiap hamba-Nya di dalam melayani Tuhan. Kekuatan itu tidak bisa dilihat secara kasat mata seperti misalnya melihat orang buta melihat, orang tuli mendengar, dll, tetapi kekuatan itu sangat penting bagi seorang pelayan-Nya, karena tanpa kekuatan dari-Nya, mereka tidak akan mampu menunaikan tugas pelayanan-Nya. Hamba-Nya yang setia, Pdt. Dr. Stephen Tong adalah salah satu saksi mata seorang hamba Tuhan yang dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus. Jika ada yang mengatakan Pdt. Stephen Tong tidak ada ‘roh kudus’ hanya karena beliau tidak dapat membuat orang tumbang, maka saya menantang si pemfitnah itu, dengan kuasa mana beliau bisa berkhotbah dan memberitakan Injil di dunia dengan jadwal yang begitu padat? Jika tanpa kuasa Roh Kudus yang terus memberi kekuatan dan kesehatan fisik maupun mental, maka beliau tidak bisa melayani Tuhan dengan begitu bersemangat meskipun jadwal pelayanannya yang begitu padat. Sudahkah kita mengalami kuasa Roh Kudus di dalam pelayanan yang kita kerjakan? Kita bisa mengalami kuasa Roh Kudus tersebut tatkala kita dengan taat dan rela menunaikan tugas pelayanan kita kepada-Nya. Percayalah, tatkala kita melayani Tuhan sungguh-sungguh, Roh-Nya yang kudus akan mendampingi kita dan memberi kita kekuatan.

 

 

Tiga wujud sukacita pelayanannya di dalam Kristus tersebut mengakibatkan Paulus tidak merasa capek walau harus pergi ke tempat yang jauh sekalipun. Ini dikatakannya di ayat 19b, “Demikianlah dalam perjalanan keliling dari Yerusalem sampai ke Ilirikum aku telah memberitakan sepenuhnya Injil Kristus.” Ia telah rela pergi dari Yerusalem ke tempat yang jauh, mengapa? Demi uang? TIDAK! Demi Injil. Dr. John Calvin yang terus berkhotbah setiap pagi kepada jemaatnya tanpa mengenal lelah, mengapa? Karena Injil. Pdt. Dr. Stephen Tong rela pergi meninggalkan Tiongkok sebagai negara kelahirannya, merantau ke Indonesia, berkhotbah dan memberitakan Injil ke Amerika, Meksiko, Jepang, Taiwan, Singapura, Malaysia, Thailand, dll, mengapa? Karena uang? TIDAK! Karena Injil! Para misionaris dan hamba Tuhan sejati dengan ketaatan penuh dan melalui kuasa Roh Kudus mampu menunaikan tugas pelayanan-Nya, hanya karena satu: Injil Kristus. Karena Injil, mereka berani membayar harga, diri, dan uang. Karena Injil, mereka rela membayar harga ditinggal suami/istri/keluarganya dan dicap “kafir.” Karena Injil, mereka berani membayar harga dimusuhi oleh tetangga dan rekannya. Ya, karena Injil. Sungguh suatu kontradiksi dengan orang “Kristen” di zaman sekarang ini. Di zaman ini, kita sangat sulit menemukan seorang yang rela berkorban demi Injil. Yang ada justru sebaliknya, banyak orang “Kristen” bahkan “pemimpin gereja” memanipulasi Injil demi kepentingannya sendiri. Karena uang, beberapa pemimpin gereja rela memberitakan “injil” kemakmuran untuk menarik keuntungan sebesar-besarnya. Karena terlalu memerhatikan kondisi lingkungan sekitar, beberapa pemimpin gereja mulai menolak pemberitaan Injil secara verbal dan menggantinya dengan pelayanan sosial saja. Karena terlalu memerhatikan agama-agama lain, sang pemimpin gereja “berani” berkhotbah di atas mimbar bahwa di luar Kristus masih ada jalan keselamatan. Semua dilakukan untuk memuaskan keinginan pribadi, baik: uang, harga diri, dan lingkungan sekitar. Sungguh berbeda dengan para misionaris dan pelayan Tuhan yang setia yang rela mengorbankan diri sendiri agar Injil Kristus diberitakan. Bagaimana dengan kita? Masihkah kita sebagai anak-anak-Nya selalu mengecewakan-Nya? Masihkah kita sebagai anak-anak-Nya memanipulasi Injil Kristus demi kepentingan kita sendiri? Sudah saatnya orang Kristen dan pemimpin gereja BERTOBAT dari dosa-dosa mereka yang menghina dan memanipulasi Injil!

 

 

Hari ini, jika Roh Kudus menegur Anda melalui perenungan kita saat ini, bukalah hati dan pikiran Anda, biarkan Ia mengoreksi dan memimpin jalan hidup dan pelayanan kita agar apa pun yang kita kerjakan sungguh-sungguh memuliakan Tuhan. Amin. Soli Deo Gloria.

 

 

 

 

Seri Eksposisi Surat Roma 15:14-16: KONSEP PELAYANAN SEJATI-1

January 24th, 2009 by tanenlai2005

Seri Eksposisi Surat Roma:

Penutup-1

 

 

Konsep Pelayanan Sejati-1: Belajar dari Teladan Jemaat Roma dan Pelayanan Paulus

 

oleh:Denny Teguh Sutandio

 

 

 

Nats: Roma 15:14-16

 

 

 

Setelah menjelaskan Kristus adalah teladan bagi kesatuan jemaat di ayat 8 s/d 13, Paulus menutup suratnya mulai pasal 15 ayat 14 dengan maksud agar jemaat Roma mengerti dasar tulisannya yang berisi dasar pelayanannya. Hal ini juga mencerahkan hati dan pikiran kita tentang konsep pelayanan yang beres yang berpusat kepada Kristus.

 

 

Di ayat 14, ia memulai penjelasan yang baru dengan mengatakan, “Saudara-saudaraku, aku sendiri memang yakin tentang kamu, bahwa kamu juga telah penuh dengan kebaikan dan dengan segala pengetahuan dan sanggup untuk saling menasihati.” Di ayat ini, Paulus memuji jemaat Roma. Pujian ini bukan sebagai pujian yang dibuat-buat, tetapi pujian yang keluar dari hati Paulus. Apa yang mengakibatkan Paulus memuji jemaat Roma? Di ayat ini, ia menjelaskan alasannya, yaitu ia yakin akan jemaat Roma (NIV: I myself am convinced {=Aku sendiri diyakinkan}; English Standard Version/ESV: I myself am satisfied about you {=Aku sendiri dipuaskan tentang kamu}). Ia diyakinkan oleh jemaat Roma bahwa jemaat Roma adalah jemaat yang: penuh dengan kebaikan, segala pengetahuan, dan sanggup untuk saling menasihati. Di sini, Paulus menjelaskan 3 kondisi jemaat Roma, yaitu:

Pertama, penuh dengan kebaikan. Kata “kebaikan” di sini di dalam terjemahan Yunaninya agathōsunēbisa diterjemahkan virtue (kebajikan). Bukan hanya sekadar baik, Paulus mengatakan jemaat Roma menunjukkan kepenuhan kebaikan/kebajikan mereka. Di sini, berarti, Paulus menilai jemaat Roma sudah berbuat baik dengan sungguh-sungguh dan penuh. Apa yang Paulus telah ajarkan melalui pemberitaan Injil telah membuahkan hasil bagi jemaat Roma yaitu mereka sudah berbuat segala kebaikan. Bagaimana dengan pelayanan yang kita lakukan? Apakah kita lebih mementingkan betapa sibuknya kita melayani tetapi kita melupakan unsur sosial? Tidak ada salahnya kita memerhatikan unsur sosial, tetapi kita tidak boleh terlalu mementingkan unsur sosial sebagai satu-satunya hal terpenting di dalam iman Kristen atau program gerejawi!

 

Kedua, dipenuhi dengan segala pengetahuan. KJV dan ESV menerjemahkan, “filled with all knowledge” (dipenuhi dengan segala pengetahuan), NIV menerjemahkan, “complete in knowledge” (=lengkap dalam pengetahuan). Bukan hanya berbuat baik, jemaat Roma pun telah dipenuhi dengan segala pengetahuan. Berarti secara kognitif, mereka telah menyerap banyak pengetahuan. Pengetahuan apa yang Paulus maksudkan di sini? Apakah pengetahuan sekuler? Tidak. Beberapa penafsir mengatakan bahwa pengetahuan yang dimaksud di sini adalah pengetahuan tentang Injil dan hubungannya dengan Allah. Dengan kata lain, pengetahuan rohani yang Paulus maksudkan. Mereka mendapatkan pengetahuan rohani tersebut setelah Paulus menjabarkan Injil kepada mereka. Pelayanan yang beres bukan hanya memperhatikan sisi sosial dan kuantitas jam kita melayani, tetapi yang terpenting adalah kita harus memerhatikan dan mementingkan konsep dan dasar pelayanan kita dengan pengertian firman Tuhan yang bertanggung jawab. Pelayanan tanpa mengerti siapa yang kita layani dan bagaimana seharusnya kita melayani akan mengakibatkan pelayanan itu sia-sia, karena pelayanan itu tidak didasari oleh pengertian yang beres. Bagaimana dengan kita? Sebagaimana Paulus telah mengajar Injil kepada jemaat Roma dan mereka sudah menyerap banyak pengetahuan darinya demi pelayanan mereka, sudah seharusnya kita yang mau melayani memperlengkapi diri dengan pengertian firman Tuhan yang bertanggung jawab, sehingga kita tahu siapa yang kita layani (yaitu Tuhan Allah sebagai Pencipta, Penebus, Pemelihara, dan Penyempurna hidup kita) dan bagaimana seharusnya kita melayani-Nya.

 

Ketiga, sanggup untuk saling menasihati. Bukan hanya penuh dengan kebajikan dan pengetahuan, Paulus menyebut jemaat Roma sebagai jemaat yang mampu untuk saling menasihati/menegur. Berarti jemaat Roma BUKAN orang yang egois yang merasa bahwa mereka telah mendapat semua pengetahuan rohani lalu menyimpannya untuk diri sendiri. Jemaat Roma mau membagikan apa yang mereka dapatkan untuk saling menasihati. Uniknya, Paulus mengatakan bahwa jemaat Roma sanggup/mampu saling menasihati. Kata “saling” berarti ada hubungan timbal balik. Berarti jemaat Roma yang sudah banyak belajar firman Tuhan adalah jemaat yang saling menasihati satu sama lain. Mereka melakukannya demi pertumbuhan kerohanian mereka. Teladan jemaat Roma adalah pelajaran yang perlu kita teladani di dalam konsep pelayanan kita di zaman sekarang. Sering kali semakin menguasai banyak theologi, kita semakin sombong dan egois, hanya mau mengkritik orang lain, tetapi tidak pernah mau mengkritik diri sendiri yang berdosa. Saya pribadi menjumpai ada orang Kristen yang sudah membaca banyak buku theologi bahkan menjadi editor buku theologi, lalu suka menjadi pengkritik tindakan orang lain di dalam lingkungan tempat ia bekerja, tetapi herannya (sekaligus aneh) teguran yang ia lontarkan TIDAK pernah berlaku untuk dirinya sendiri dan orang terdekatnya! Secara implisit, ia menerapkan konsep infallibility and inerrancy of the boss and me (ketidakbersalahan bos dan dirinya)! Inilah kengerian banyak orang yang belajar theologi, lalu kepalanya menjadi besar, namun hati dan karakternya NOL! Melalui teladan jemaat Roma, marilah kita belajar bahwa semakin belajar banyak theologi, semakin kita mau pertama-tama dikoreksi oleh firman Tuhan, lalu kita juga berbagi dengan saudara seiman kita dengan menegur, mendorong, dan menghibur mereka demi pertumbuhan kerohanian kita bersama.

 

 

Tetapi, apakah ketiga kondisi jemaat Roma sudah cukup? Paulus berkata, BELUM. Ia perlu mengingatkan tentang pelayanan Paulus kepada bangsa-bangsa non-Yahudi. Di ayat 15-16, ia mengatakan, “Namun, karena kasih karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadaku, aku di sana sini dengan agak berani telah menulis kepadamu untuk mengingatkan kamu, yaitu bahwa aku boleh menjadi pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi dalam pelayanan pemberitaan Injil Allah, supaya bangsa-bangsa bukan Yahudi dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, yang disucikan oleh Roh Kudus.” Ada dua hal yang mau ditekankan Paulus tentang konsep pelayanan di dalam dua ayat ini, yaitu:

Pertama, pelayanan adalah respons terhadap anugerah Allah dan anugerah Allah itu sendiri. Di awal ayat 15, Paulus mengatakan bahwa karena kasih karunia yang telah dianugerahkan Allah, maka … Berarti pelayanan dimulai dari anugerah Allah. Kita boleh melayani Allah karena kita telah mendapatkan anugerah Allah terlebih dahulu melalui keselamatan di dalam Kristus. Setelah kita diselamatkan di dalam Kristus, barulah kita bisa melayani Tuhan dengan bertanggung jawab karena kita mengetahui sapa yang kita layani. Pelayanan yang TIDAK pernah dikaitkan dengan anugerah Allah akan menjadi pelayanan yang egosentris dan antroposentris (berpusat kepada manusia). Pelayanan itu akan terus mempertimbangkan keuntungan dan kerugian bagi si pelayan. Dan yang lebih parah lagi pelayanan itu akan bertujuan memuliakan si pelayan ketimbang Allah yang dilayani. Terlalu banyak konsep pelayanan yang antroposentris yang orang Kristen lakukan, tetapi tak pernah disadari. Mereka giat melayani “Tuhan” di gereja pada hari Minggu, tetapi 6 hari berikutnya, hidupnya tidak pernah berkait dengan Allah dan kehendak-Nya, melainkan lebih mengikuti setan dan kroni-kroninya. Lalu, untuk apa mereka melayani “Tuhan”? Ada banyak argumentasi yang mereka katakan. Ada yang mengatakan bahwa di gereja itu, siapa yang sudah dibaptis harus melayani. Yang lain mengatakan bahwa dia melayani karena alasan gengsi, soalnya teman-temannya satu gereja banyak yang sudah melayani di gereja. Semua argumentasi mereka didasarkan pada asumsi manusia berdosa yang berpusat pada diri dan kehebatan diri. Hari ini, biarlah pernyataan Paulus menyadarkan kita bahwa kita baru bisa melayani Tuhan dengan pengertian dan cara yang bertanggung jawab setelah kita mendapatkan anugerah Allah. Selain sebagai respons terhadap anugerah Allah, kita juga harus mengerti bahwa pelayanan kepada Allah itu pun adalah anugerah Allah, karena tidak setiap orang dilayakkan Allah untuk menjadi pelayan-Nya bagi Kerajaan-Nya. Ketika kita sebagai anak-anak-Nya dilayakkan untuk menjadi budak-Nya yang melayani-Nya, JANGAN pernah mengomel, tetapi bersyukur, karena kita dilayakkan untuk menjadi budak dari Pencipta dan Penebus kita, Raja alam semesta, dan Tuhan yang berdaulat. Bukankah suatu hak istimewa (privilege) dan anugerah yang sangat besar bagi kita yang dulu berdosa namun telah dilayakkan melalui penebusan di dalam Kristus menjadi anak-anak-Nya yang melayani Raja segala raja?

 

Kedua, pelayanan adalah pelayanan yang berjiwa murni dan universal. Di ayat 16, Paulus mengingatkan pelayanan pemberitaan Injil dilakukannya juga untuk bangsa-bangsa non-Yahudi. Apa tujuannya? Supaya mereka dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, setelah disucikan oleh Roh Kudus (teks Yunani menggunakan perfect tense untuk frasa, “yang disucikan oleh Roh Kudus”). Di sini, Paulus menjelaskan konsep pelayanan yang berjiwa murni dan universal. Ketika melayani dan memberitakan Injil, Paulus TIDAK memerhatikan diri sendiri, tetapi orang-orang yang ia layani agar mereka bertobat, percaya, dan mengikut Kristus (bukan mengikut Paulus). Hal ini ditandai dengan motivasi dan ruang lingkupnya melayani. Motivasinya melayani bukan untuk kehebatan diri, tetapi untuk orang-orang khususnya dari bangsa non-Yahudi agar mereka dapat diterima oleh Allah sebagai suatu persembahan yang berkenan kepada-Nya setelah disucikan oleh Roh Kudus. Ia mengaitkan objek pelayanannya dengan sumber/dasar pelayanannya yaitu ibadah sejati yang menyenangkan hati Allah (Rm. 12:1). Berarti, di dalam pelayanan, orang-orang yang ia layani lah yang menjadi perhatian Paulus. Ini menyadarkan banyak konsep pelayanan kita. Kita sering kali melayani tidak memerhatikan orang yang kita layani, tetapi diri kita, yaitu apakah diri kita merasa nyaman atau tidak melayani di bidang tertentu. Jika kita tidak nyaman, misalnya karena kita berselisih paham dengan orang Kristen lain, kita tidak mau lagi melayani di bidang itu, meskipun itu panggilan dan beban yang Allah berikan kepada kita. Kita lebih suka melayani di tempat-tempat yang nyaman yang cocok dengan keinginan kita daripada harus menuruti keinginan Allah. Di dalam kehidupan sehari-hari pun, kita juga lebih suka mengatur dan menjalani hidup TANPA melibatkan Allah dan kehendak-Nya, sehingga meskipun kita secara teori mengaku diri “Kristen” bahkan “Injili” yang memegang teguh otoritas Alkitab, secara praktik, kita tidak ada bedanya seperti seorang atheis praktis yang membuang Allah di dalam hidup kita! Biarlah Roh Kudus mengubah konsep pelayanan kita yang tidak beres ini dan memimpin kita kepada konsep pelayanan yang beres yang mementingkan objek yang kita layani bukan diri kita sendiri. Tetapi apakah cukup mementingkan objek yang kita layani di dalam pelayanan kita? TIDAK! Paulus melanjutkan bahwa objek yang dia layani itu sebagai hal yang menyenangkan-Nya, namun sebelumnya Roh Kudus telah menyucikan bangsa-bangsa non-Yahudi itu agar mereka diterima oleh Allah. Berarti, ia lebih mementingkan peran Kebenaran (Truth) yang Roh Kudus kerjakan di dalam hati umat pilihan dari bangsa-bangsa non-Yahudi. Beberapa “gereja” atau orang/pemimpin “Kristen” di zaman postmodern ini mempunyai konsep yang bertolak belakang dari konsep Paulus ini. Mereka mengajar bahwa pelayanan “Kristen” adalah pelayanan yang berorientasi pada orang lain. Mereka membuang konsep penginjilan verbal dan menggantinya dengan “penginjilan” melalui perbuatan/aksi sosial. Di dalam khotbah dari gereja yang menganut paham ini, banyak pemimpin mereka mengajar bahwa kita harus memerhatikan orang miskin, karena Tuhan Yesus juga melayani orang miskin. Apakah itu salah? TIDAK! Meskipun tidak salah, ada dua kelemahan dari konsep ini yang jarang mereka pikirkan: Pertama, Alkitab memang mengajar bahwa kita harus memerhatikan orang miskin, tetapi di sisi lain, Alkitab yang sama (Im. 19:15) mengajar agar kita TIDAK membela orang miskin/kecil. Kedua, jika pelayanan Kristen terus memperhatikan orang lain (dalam hal ini: orang miskin), maka pelayanan “Kristen” tidak ada bedanya dengan pelayanan duniawi yang antroposentris. Alkitab mengajar bahwa pelayanan Kristen yang beres BUKAN pelayanan yang terus berorientasi pada orang lain saja, tetapi pelayanan yang beres adalah pelayanan yang memerhatikan objek yang kita layani dengan prinsip-prinsip Kebenaran agar mereka yang kita layani kembali kepada Kebenaran. Inti dari pelayanan Kristen yang beres adalah Kebenaran, bukan objek atau orang lain.

Bukan hanya motivasi pelayanan Paulus itu murni, ruang lingkup pelayanannya pun luas. Ia memberitakan Injil bukan hanya bagi orang Yahudi, tetapi juga untuk orang-orang non-Yahudi yang dianggap oleh orang Yahudi sebagai bangsa kafir (Gentiles). Paulus tidak memedulikan anggapan negatif orang Yahudi ketika ia memberitakan Injil kepada orang-orang non-Yahudi. Ia melakukan hal ini sesuai dengan teladan Tuhan Yesus Kristus yang melayani bukan hanya untuk orang Yahudi, tetapi juga untuk orang-orang non-Yahudi. Pelayanan Kristen yang beres adalah pelayanan yang universal yang tidak hanya menjangkau suku-suku tertentu, tetapi untuk semua suku dan bangsa. Apa dasarnya kita bisa melayani semua orang? Dasarnya adalah Pertama, Allah adalah Pencipta manusia dari berbagai bangsa. Kedua, di dalam Kristus, orang-orang yang tergabung di dalam umat pilihan-Nya yang telah ditebus adalah orang-orang yang terdiri dari berbagai bangsa dan bahasa (Gal. 3:28). Ketiga, kita semua dari berbagai bangsa yang telah ditebus Kristus, pada saat yang sama, dibaptis oleh Tuhan Yesus di dalam satu Roh (1Kor. 12:13). Sebagaimana Paulus melayani dengan prinsip universalitas di dalam pelayanan, sudahkah kita siap melayani Tuhan dengan jiwa universal tersebut? Allah yang menciptakan manusia, menebus beberapa manusia untuk menjadi umat-Nya, dan menyempurnakan mereka melalui karya Roh Kudus adalah Allah yang tidak membeda-bedakan manusia, bukankah kita juga seharusnya tidak perlu membeda-bedakan manusia? Manusia membutuhkan Injil, tidak peduli apakah itu orang Indonesia, Inggris, India, Amerika, RRT, Jepang, dll. Siapkah kita menyaksikan kasih dan kebenaran Kristus kepada mereka tanpa pandang bulu?

 

 

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita melayani Tuhan dengan konsep dan cara yang bertanggung jawab sesuai dengan firman Tuhan? Jika belum, biarlah Roh Kudus mencerahkan hati dan pikiran kita, lalu memimpin kita untuk terus melayani-Nya dengan hati yang tulus dan konsep yang benar. Kiranya Tuhan memberkati. Amin. Soli Deo Gloria.

 

 

 

Seri Eksposisi Surat Roma 15:8-13: KESATUAN JEMAAT-2: Kristus Sebagai Teladan dan Janji

December 21st, 2008 by tanenlai2005

Seri Eksposisi Surat Roma:

Menjadi Berkat Bagi Sesama-4

 

 

Kesatuan Jemaat-2: Kristus Sebagai Teladan dan Janji Allah

 

oleh:Denny Teguh Sutandio

 

 

 

Nats: Roma 15:8-13

 

 

 

Setelah menjelaskan di ayat 4 s/d 7 bahwa sesama jemaat harus bersatu, maka Paulus menjelaskan di ayat berikutnya yaitu ayat 8 s/d 13 bahwa Kristus itulah teladan bagi kesatuan jemaat tersebut, sehingga kesatuan yang tidak meneladani Kristus bukanlah kesatuan yang Allah inginkan.

 

 

Di ayat 8, Paulus menjelaskan, “Yang aku maksudkan ialah, bahwa oleh karena kebenaran Allah Kristus telah menjadi pelayan orang-orang bersunat untuk mengokohkan janji yang telah diberikan-Nya kepada nenek moyang kita,” Di ayat ini, Paulus menegaskan di titik awal bahwa ketika kita ingin belajar arti kesatuan, maka kita harus belajar dari Kristus yang mempersatukan semua bangsa menjadi umat pilihan Allah yang menerima keselamatan. Keselamatan ini dimulai dari kaum Israel terlebih dahulu. Pernyataan “orang-orang bersunat” di dalam New International Version (NIV) diterjemahkan Jews (Yahudi). Keselamatan yang dimulai dari kaum Israel ini adalah janji Allah kepada umat-Nya melalui nenek moyang mereka. Keselamatan ini digenapi di dalam Pribadi dan karya Kristus sebagai Juruselamat mereka. Di ayat ini, Kristus dinyatakan sebagai Pelayan bagi kaum Israel. Kata “pelayan” dalam NIV diterjemahkan servant dan di dalam King James Version (KJV) diterjemahkan minister. Kata Yunani yang dipakai adalah diakonos, BUKAN doulos. Kata diakonos berarti pelayan, pembantu, atau diaken (Hasan Sutanto, 2003, hlm.197), sedangkan kata doulos berarti budak. Mengapa Kristus disebut sebagai pelayan (diakonos) bukan doulos? Karena Paulus hendak mengatakan bahwa Kristus diutus Allah untuk melayani dan menebus orang berdosa, tetapi tidak berarti Ia kehilangan natur-Nya sebagai Allah yang bisa diinjak.

 

 

Keselamatan ternyata bukan hanya untuk orang Israel, tetapi juga untuk bangsa-bangsa lain. Paulus mengajarkannya di dalam ayat 9 s/d 12 dengan mengutip Perjanjian Lama. Mari kita telusuri pengajaran-pengajaran ini.

Di ayat 9, ia mengajarkan, “dan untuk memungkinkan bangsa-bangsa, supaya mereka memuliakan Allah karena rahmat-Nya, seperti ada tertulis: “Sebab itu aku akan memuliakan Engkau di antara bangsa-bangsa dan menyanyikan mazmur bagi nama-Mu.”” Ayat ini dikutip dari 2 Samuel 22:50 dan Mazmur 18:50. Mazmur 18:50, “Sebab itu aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu di antara bangsa-bangsa, ya TUHAN, dan aku mau menyanyikan mazmur bagi nama-Mu.” Mazmur 18 ini ditulis sebagai ucapan syukur Daud setelah Allah melepaskannya dari tangan musuh dan Saul (baca ayat 1). Khususnya di ayat ini, Tuhan melalui Daud hendak mengajar kita bahwa Allah adalah Allah yang berkuasa atas semua bangsa dan semua bangsa harus menyembah-Nya. Oleh Paulus, ayat ini dikutip dan diberi arti baru tentang sentralitas Kristus sebagai Allah Pembebas manusia dari (Juruselamat) dosa. Sebagai Juruselamat atas dosa, kuasa penebusan Kristus berlaku BUKAN hanya untuk orang-orang Israel yang bertobat, tetapi juga bagi orang-orang “kafir” (Gentiles) yang bertobat. Jika kita kembali ke Roma 9-11, kita diingatkan kembali akan pengajaran Paulus bahwa keselamatan memang dimulai dari Israel lalu diteruskan ke bangsa-bangsa lain, tetapi TIDAK untuk dimonopoli oleh orang Israel lalu menghina orang-orang non Israel. Berarti di sini, Kristus adalah teladan bagi kita yang mempersatukan kita dari berbagai bangsa, suku, dan budaya menjadi satu di dalam tubuh-Nya. Inilah yang dimaksud universalitas keselamatan di dalam Kristus. Universalitas keselamatan ini BUKAN berarti keselamatan bisa ada di luar Kristus, tetapi keselamatan yang hanya ada di dalam Kristus berlaku dan dinikmati oleh semua orang percaya/pilihan Allah dari berbagai suku, bangsa, dan bahasa. Bagaimana dengan kita? Kita sering kali masih membeda-bedakan suku di dalam persekutuan tubuh Kristus. Kita mungkin masih merendahkan suku tertentu, padahal seharusnya, di dalam Kristus, tidak ada perbedaan suku dan bangsa (1Kor. 12:13; Gal. 3:28). Mari kita bertobat dari dosa pendiskriminasian ini dan melihat karya Kristus sebagai pemersatu perbedaan bangsa dan suku ini.

 

 

Di ayat 10, ia mengajarkan, “Dan selanjutnya: “Bersukacitalah, hai bangsa-bangsa, dengan umat-Nya.”” Terjemahan teks Yunani dari kata “bangsa-bangsa” di ayat ini adalah “bangsa-bangsa bukan Yahudi.” (Hasan Sutanto, 2003, Perjanjian Baru Interlinear, hlm. 874) Setelah di ayat 9, Paulus mengajar tentang sentralitas Kristus yang menyelamatkan semua bangsa, maka di ayat 10 ini, Paulus mengajar bagaimana respons mereka yang telah diselamatkan, yaitu bersukacita. Uniknya, di ayat 10 ini, Paulus mengajak orang-orang dari bangsa non-Yahudi untuk bersukacita bersama dengan umat-Nya (Yahudi). Mengapa? Di sini, Paulus hendak menjelaskan bahwa keselamatan di dalam Kristus selain dinikmati oleh semua orang pilihan Allah dari berbagai bangsa juga harus disyukuri oleh mereka. Dengan kata lain, bangsa-bangsa non-Yahudi pun bisa bersyukur dan menyembah Allah yang menyelamatkan mereka di dalam Kristus, karena universalitas karya Kristus tersebut. Lebih tajam lagi, bangsa-bangsa non-Yahudi bisa bersukacita selain karena universalitas karya Kristus, juga karena karya Allah bagi umat-Nya. Jika kita memperhatikan kutipan ayat ini dari PL, yaitu Ulangan 32:43 yang berbunyi, “Bersorak-sorailah, hai bangsa-bangsa karena umat-Nya, sebab Ia membalaskan darah hamba-hamba-Nya, Ia membalas dendam kepada lawan-Nya, dan mengadakan pendamaian bagi tanah umat-Nya.” kita akan mendapatkan gambaran lebih jelas lagi bahwa karya Allah bagi umat-Nya juga menjadi berkat bagi bangsa-bangsa non-Yahudi. Di dalam sejarah PL, kita melihat gambaran jelas akan hal ini. Daniel adalah salah satu contoh hamba Tuhan yang dipakai Tuhan dengan dahsyat di zamannya, sehingga ia menjadi berkat bagi Raja Darius di mana Allah yang ia sembah yang berdaulat itu diakui oleh raja Darius (Dan. 6:1-28). Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menjadi saluran berkat yang menyatakan karya Allah di dalam pribadi dan hidup kita? Mungkin orang lain (non-Kristen) tidak bisa melihat Tuhan Yesus, tetapi mereka bisa melihat pribadi kita sebagai anak-anak-Nya yang mencerminkan kebenaran, kasih, keadilan, dan kekudusan Allah. Biarlah mereka melihat karya Allah yang Mahakudus, Mahakasih, dan Mahaadil itu di dalam pribadi anak-anak Tuhan. Di tengah zaman yang bengkok, gelap, dan rusak ini, biarlah kita sebagai anak-anak-Nya memiliki hati dan semangat mau melayani Tuhan dan menjadi saksi bagi-Nya, supaya nama Tuhan dipermuliakan.

 

 

Bukan hanya bersukacita, bangsa-bangsa non-Yahudi pun memuji kebesaran Allah kita. Di ayat 11, Paulus mengajarkan, “Dan lagi: “Pujilah Tuhan, hai kamu semua bangsa-bangsa, dan biarlah segala suku bangsa memuji Dia.”” Kembali, “bangsa-bangsa” di dalam ayat ini diterjemahkan dari teks Yunani sebagai “bangsa-bangsa bukan Yahudi.” (ibid., hlm. 874) Kita bisa belajar dua hal dari ayat ini.

Pertama, respons yang benar setelah diselamatkan selain bersyukur adalah memuji Allah sebagai Sumber Keselamatan. Hal ini dilakukan juga oleh orang-orang non-Yahudi. Berarti, Allah menerima pujian dan penyembahan dari orang-orang non-Yahudi melalui bahasa-bahasa mereka. Tuhan TIDAK menuntut Ia harus dipuji dengan bahasa tertentu seperti yang dilakukan oleh agama mayoritas di Indonesia (sungguhan kasihan “Tuhan” seperti itu, hehehe), tetapi Ia menghendaki semua bangsa dengan semua bahasa dan budaya memuji nama-Nya atas kebesaran-Nya. Itu baru disebut bersatu secara esensi. Inti persatuan tersebut adalah memuji Allah Trinitas dengan keragaman bahasa dan budaya dari bangsa-bangsa yang ada.

 

Kedua, bukan hanya bangsa-bangsa non-Yahudi yang memuji-Nya, tetapi juga semua rakyat/suku bangsa (terjemahan dari teks Yunani). Berarti pujian kepada Allah bukan hanya berada di tataran bangsa, tetapi juga sampai ke pelosok-pelosok, yaitu suku bangsa atau rakyat. Dengan demikian tidak ada satu inci suku bangsa yang seharusnya tidak memuji Tuhan, karena Ia adalah Allah yang berdaulat di dunia bahkan sampai suku bangsa. Itulah persatuan yang Tuhan inginkan. Umat Tuhan yang ingin melayani Tuhan harus bersiap diri terjun ke tempat-tempat terpencil dan kecil untuk memberitakan Injil. Selain itu, Alkitab juga dicetak dengan bahasa-bahasa daerah setempat membuktikan adanya persatuan di dalam tubuh Kristus. Semua hal yang dikerjakan ini hanya membuktikan satu hal: Kristus harus dimuliakan di semua bangsa bahkan suku bangsa yang terpencil sekalipun. Sudahkah kita siap menjangkau suku-suku terpencil bagi Kristus? Pdt. Michael Densmoor, seorang misionaris dari Amerika Serikat terpanggil untuk melayani Tuhan dan memberitakan Injil untuk suku Sunda, bagaimana dengan Anda? Suku Jawa, Aceh, Tionghoa, Madura, dll banyak yang belum mendengar Injil dengan bertanggungjawab, Andakah orangnya yang Tuhan utus?

 

 

Sentralitas Kristus sebagai teladan kesatuan jemaat ini diakhiri dengan pernyataan bahwa Kristus adalah Hakim dan Pemerintah atas bangsa-bangsa. Hal ini diajarkan Paulus di ayat 12, “Dan selanjutnya kata Yesaya: “Taruk dari pangkal Isai akan terbit, dan Ia akan bangkit untuk memerintah bangsa-bangsa, dan kepada-Nyalah bangsa-bangsa akan menaruh harapan.”” Ayat ini dikutip dari Yesaya 11:10 yang selengkapnya berbunyi, “Maka pada waktu itu taruk dari pangkal Isai akan berdiri sebagai panji-panji bagi bangsa-bangsa; dia akan dicari oleh suku-suku bangsa dan tempat kediamannya akan menjadi mulia.” Dari ayat ini, kita bisa belajar dua hal, yaitu:

Pertama, sentralitas Kristus sebagai Hakim dan Pemerintah. Selain sebagai Juruselamat dari dosa (bdk. ay. 9), Paulus menjabarkan sisi akhir dari Kristus yaitu sebagai Hakim dan Pemerintah. Ia memerintah atas bangsa-bangsa baik Yahudi maupun non-Yahudi. Berarti ada universalitas kekuasaan Kristus. Jika Kristus memerintah atas bangsa-bangsa, bukankah firman-Nya harus menjadi fondasi kebenaran bagi semua bangsa? Bukankah semua bangsa seharusnya tanpa kecuali harus taat mutlak kepada Kristus melalui hukum-hukum-Nya di Alkitab? Itu yang Ia inginkan. Ini bukan pemaksaan yang tanpa dasar, tetapi suatu kemutlakan yang berotoritas, berdasar, dan bertanggungjawab. Itulah yang menjadi tugas kita bersama sebagai umat pilihan-Nya di dalam Kristus menjadi garam dan terang Kristus yang membawa Kebenaran Kristus ke dalam kehidupan kita sehari-hari, khususnya di bidang politik dan hukum. Ini saya sebut sebagai kesatuan di dalam menjalankan mandat budaya (unity in doing cultural mandate). Sudahkah kita siap melakukannya?

 

Kedua, otoritas Kristus yang agung dan penuh kasih. Tentunya sebagai Hakim dan Pemerintah, Ia berotoritas, tetapi sering kali otoritas menjadi hal yang mengerikan. Tetapi apakah ini berlaku bagi Kristus? TIDAK! Otoritas Kristus memang absolut, tetapi Ia menjalankan otoritas-Nya bukan dengan kekejaman militer, tetapi dengan Kasih. Itulah yang membuat Yesaya mengatakan bahwa Dia akan dicari oleh bangsa-bangsa dan tempat kediaman-Nya akan menjadi mulia. Berarti otoritas Kristus tidak membuat bangsa-bangsa terpaksa ketakutan, tetapi mereka sungguh-sungguh takut dan gemetar melihat otoritas Kristus yang penuh kasih. Agama di luar Kristen menjalankan “misi” mereka ada yang menggunakan pedang dan pemaksaan (meskipun di depan umum, mereka menyangkalinya), begitu juga dengan otoritas kerajaan duniawi, tetapi hanya Satu yang menjalankan otoritas pemerintahan kerajaan bukan dengan kekejaman, melainkan dengan Kasih dan Kebenaran, yaitu Tuhan Yesus Kristus dan Kerajaan-Nya. Puji Tuhan! Hal ini telah menjadi kekuatan bagi jemaat Roma yang pada waktu itu menghadapi bengisnya kekaisaran Romawi. Biarlah ini juga menjadi kekuatan bagi kita yang hidup di zaman sekarang. Sudahkah kita bersama-sama menghadirkan Kerajaan Allah di dalam Kristus yang penuh kasih, kebenaran, keadilan, dan kesucian ini di tengah masyarakat kita yang berdosa?

 

 

Setelah menguraikan sentralitas Kristus sebagai Juruselamat dan Pemerintah, Paulus mengajar jemaat Roma (dan kita juga), “Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.” (ay. 13) Dari ayat ini, kita belajar dua hal tentang janji Allah, yaitu:

Pertama, Ia akan memenuhi kita dengan segala sukacita dan damai karena kita percaya kepada-Nya (terjemahan dari NIV dan teks Yunani). Ketika kita percaya di dalam dan kepada Kristus dan bersama-sama menunaikan mandat yang Ia percayakan kepada kita, maka Ia akan memenuhi kita dengan sukacita dan damai. Akibatnya, meskipun di dalam menjalankan mandat-Nya, kita menemui banyak rintangan, percayalah, kita dimampukan-Nya mengatasi hal itu, bahkan kita diberi-Nya sukacita sejati dan damai yang melampaui segala akal. Ada jaminan kekuatan bagi umat-Nya yang sungguh-sungguh beriman dan bergantung total kepada-Nya. Hal ini bukan hanya menjadi teori saja, saya pun sudah mengalaminya. Ketika saya melayani Tuhan di dalam dunia perkuliahan dengan mengintegrasikan iman Kristen dengan ilmu, seperti pada umumnya, beberapa dosen “Kristen” menghalangi dan bahkan mengatakan bahwa antara iman dan ilmu tidak ada hubungannya, tetapi saya tidak memperdulikan omongan yang tidak bertanggungjawab itu. Saya tetap terus melayani Tuhan, bahkan dengan sukacita dan damai, karena saya tahu kepada siapa aku percaya (2Tim. 1:12b). Allah yang saya layani, Ia lah yang akan memampukan saya dan umat Tuhan untuk melayani-Nya lebih giat lagi dan lebih bersemangat lagi demi hormat dan kemuliaan nama-Nya di dunia ini.

 

Kedua, kita memiliki berlimpah-limpah pengharapan di dalam Dia melalui kuasa Roh Kudus. Ketika kita bersatu percaya dan melayani Tuhan dan Kerajaan-Nya, percayalah, Ia akan memberikan kepada kita tempat pengharapan sejati di dalam-Nya melalui kuasa Roh Kudus. Ketika kita terus percaya dan melayani, di saat itu pula, kita terus memiliki tempat pengharapan yang sejati melalui kuasa Roh Kudus. Mengapa? Karena tempat pengharapan sejati itulah yang menguatkan, menghibur, dan mendorong kita makin giat lagi melayani Tuhan. Ketika semangat kita kendor, kerohanian kita menurun, biarkan Roh Kudus bekerja membakar kembali semangat dan kerohanian kita di dalam melayani Tuhan, itulah pengharapan kita satu-satunya. Sudahkah api Roh Kudus memberikan pengharapan kepada kita yang mulai kendor di dalam melayani Tuhan? Paulus mengatakan di Roma 12:11, “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.

 

 

Biarlah perenungan kita kali ini menyadarkan kita akan sentralitas Kristus sebagai teladan kesatuan dan janji Allah bagi kita yang bersatu menggenapkan kehendak-Nya di bumi ini. Amin. Soli Deo Gloria.

 

 

 

Seri Eksposisi Surat Roma 15:4-7: KESATUAN JEMAAT-1: Dasar

December 14th, 2008 by tanenlai2005

Seri Eksposisi Surat Roma:

Menjadi Berkat Bagi Sesama-3

 

 

Kesatuan Jemaat-1: Dasar

 

oleh:Denny Teguh Sutandio

 

 

 

Nats: Roma 15:4-7

 

 

 

Setelah menjelaskan bahwa sesama jemaat harus saling menguatkan, maka Paulus menjabarkan ide dasarnya yaitu kerukunan antar jemaat. Jemaat yang saling menguatkan harus dilatarbelakangi dengan kerukunan antar jemaat. Jemaat yang tidak rukun satu sama lain tidak mungkin menghasilkan sikap saling menguatkan, karena jemaat tersebut tidak saling mengenal satu sama lain. Di zaman postmodern, ide kerukunan juga ditekankan, tetapi apakah ide kerukunan ala Alkitab sama dengan ide kerukunan ala postmodern? MUTLAK BERBEDA! Di mana letak perbedaannya? Dalam keempat ayat yang akan kita bahas ini, kita akan mendapatkan gambaran menyeluruh tentang kerukunan antar sesama jemaat yang Alkitab ajarkan.

 

 

Kerukunan antar jemaat dimulai dengan presuposisi bahwa kita bersama berpegang pada pengharapan yang sama di dalam Kristus. Hal ini diajarkan Paulus di ayat 4, “Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.” Pernyataan “segala sesuatu yang ditulis dahulu” di dalam New International Version (NIV) Spirit of the Reformation Study Bible ditafsirkan sebagai kitab Perjanjian Lama yang dituliskan di bawah providensia/pemeliharaan Allah bermanfaat bagi orang Kristen sebagai dasar pendirian Perjanjian Baru (hlm. 1836). Kemudian, NIV Spirit of the Reformation Study Bible memberikan ayat referensi Roma 4:23, 24 sebagai dasar mengerti Roma 15:4 ini. Roma 4:23, 24, “Kata-kata ini, yaitu “hal ini diperhitungkan kepadanya,” tidak ditulis untuk Abraham saja, tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada kitapun Allah memperhitungkannya, karena kita percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati,” Secara konteks, Roma 4 berbicara mengenai iman Abraham. Karena Abraham dibenarkan karena imannya, maka itu juga berlaku bagi kita sebagai umat pilihan yang percaya kepada Allah yang telah membenarkan kita melalui penebusan Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus. Hal inilah yang dimaksudkan Paulus di ayat 4 bahwa apa yang telah dituliskan dahulu (PL) bermanfaat untuk mengajar kita sekaligus mengarahkan kita kepada penggenapannya di dalam Perjanjian Baru. Tidak hanya berhenti di sini saja, Paulus juga mengajar bahwa dari situ, kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci. Teks Yunani dan NIV menerjemahkan bahwa melalui ketekunan/ketabahan dan penghiburan (NIV: encouragement/dorongan), kita mempunyai pengharapan. Dengan kata lain, ketekunan dan penghiburan/dorongan dari PL membawa kita terus menuju kepada pengharapan yang kita miliki. Pengharapan inilah yang membawa kita kepada Kristus sebagai satu-satunya sumber pengharapan yang sejati. Satu pengharapan di dalam Kristus mengakibatkan sesama umat Tuhan memiliki kerukunan sejati. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita memiliki satu pengharapan sejati yaitu di dalam Kristus di dalam gereja Tuhan?

Ketekunan dan penghiburan bukan hanya dari Kitab Suci, Paulus menjelaskan di ayat 5, “Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus,” Di ayat ini, Paulus tidak hanya mengajar bahwa Kitab Suci memberi ketekunan dan penghiburan kepada kita, tetapi Allah sendirilah yang sebenarnya memberi kita ketekunan dan penghiburan (NIV menerjemahkan, “May the God who gives endurance and encouragement…”) King James Version (KJV) menerjemahkannya dengan mengaitkan Allah sebagai Ketekunan dan Penghiburan (“Now the God of patience and consolation”) Terjemahan teks Yunani sama dengan terjemahan KJV di atas. Meskipun terdapat sedikit perbedaan pernyataan di ayat 5a, maksud utama Paulus tentu tidak berbeda, yaitu hanya Allah saja yang mampu memberikan ketekunan/ketabahan dan penghiburan/dorongan kepada umat-Nya. Di kala umat-Nya mengalami masalah, Allah adalah Allah yang setia yang tekun dan mendorong (memberi kekuatan kepada) umat-Nya, sehingga mereka mengalami kemenangan demi kemenangan di dalam Kristus. Ketika Allah memberi kemenangan kepada kita di dalam setiap masalah, itu bukan karena kehebatan kita, tetapi karena anugerah Allah. Meskipun Allah tidak memberikan kemenangan kepada kita salah satunya berupa jalan keluar, Ia pasti memberikan kemenangan kepada kita melalui cara lain yang tidak pernah kita pikirkan. Lalu, apakah berarti Allah yang adalah Ketekunan dan Penghiburan itu hanya dimiliki oleh orang Kristen secara individual? TIDAK. Paulus menambahkan penjelasannya yaitu bahwa Allah yang adalah Ketekunan dan Penghiburan itulah yang juga mengaruniakan kerukunan kepada kita, sesuai kehendak Kristus Yesus. NIV menerjemahkan, “…give you a spirit of unity among yourselves as you follow Christ Jesus.” (=…memberikan kepada kita roh kesatuan di antara kamu karena/sambil kamu mengikut Kristus Yesus.) KJV menerjemahkan, “grant you to be likeminded one toward another according to Christ Jesus:” (=…memberikan kepada kita pikiran yang sama satu sama lain menurut Kristus Yesus:) Teks Yunani menerjemahkannya, “…semoga memberikan kepadamu yang sama untuk mempunyai pikiran (satu dengan yang lain) menurut Kristus Yesus,” (Hasan Sutanto, 2003, hlm. 873) Dengan kata lain, Allah yang adalah Ketekunan dan Penghiburan bukan menjadi jaminan bagi keegoisan orang Kristen di dalam memecahkan masalahnya sendiri, tetapi sebagai jaminan agar sesama umat Tuhan hidup rukun. Hidup rukun dalam terjemahan LAI ini diterjemahkan sebagai hidup bersatu/roh persatuan (NIV), sehati sepikir (KJV), pikiran yang sama (terjemahan dari teks Yunani). Dengan kata lain, kerukunan antar jemaat ditandai dengan semangat persatuan di dalam tubuh Kristus yang ditandai dengan sehati sepikir dan semuanya itu harus menurut Kristus Yesus. Jadi, ada dasar dari persatuan yaitu ketekunan dan pengharapan/dorongan dari Allah ditambah tujuan dan fokus dari persatuan yaitu Tuhan Yesus Kristus. Persatuan yang tidak memenuhi kedua unsur ini bukanlah persatuan yang Alkitab inginkan. Dengan kata lain, semangat oikumene ala postmodern di tengah-tengah Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) bukan semangat persatuan yang Alkitab inginkan, karena semangat ini tidak berfokus kepada Kristus. Gereja-gereja yang mengakui finalitas Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat bisa disamakan dengan gereja-gereja yang mengakui relativitas karya Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat, lalu katanya ini persatuan? TIDAK! Ini persatuan fenomenal yang tidak pernah dikehendaki Tuhan. Ingatlah, gelap dan terang MUTLAK TIDAK bisa bersatu! Jangan pernah mempersatukan gereja yang beres dengan gereja yang tidak beres! Itu jelas menyalahi unsur fokus dari persatuan yaitu Kristus Yesus. Yang benar adalah sesama umat pilihan Tuhan bersatu padu di dalam iman yang beres kepada dan di dalam Kristus saling bersatu dan menguatkan. Di situlah kerukunan dan kesatuan sejati dibangun di atas dasar dan fokus yang benar. Sudahkah kita membangun kesatuan di atas dasar dan fokus yang benar?

 

 

Lalu, apa wujud dari persatuan di dalam Kristus itu? Paulus menjabarkannya di dalam dua ayat, yaitu ayat 6 dan aplikasi praktisnya di ayat 7. Di ayat 6, Paulus mengajarkan, “sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus.” Dengan lebih tajam lagi, Paulus mengajar bahwa inti persatuan bukan kompromiisme tetapi kemuliaan Allah. Di poin ini, ia membedakan persatuan dari perspektif Alkitab dengan perspektif dunia. Alkitab mengajarkan bahwa persatuan dibangun dan sangat memperhatikan unsur kebenaran hakiki (Truth) di dalam dan di atasnya, yaitu Allah dan kemuliaan-Nya. Allah dimuliakan ketika umat pilihan-Nya bersatu bersama-sama di dalam iman yang beres di dalam dan kepada Kristus menggenapkan tugas panggilan-Nya, yaitu memperluas dan memberitakan Kerajaan-Nya di muka bumi ini. Umat pilihan-Nya berasal dari semua denominasi gereja, yang terpenting adalah sungguh-sungguh beriman kepada Kristus. Sedangkan dunia mengajarkan persatuan dengan menitikberatkan pada dosa dan kehendak manusia. Matthew Henry di dalam Matthew Henry’s Commmentary on the Whole Bible menjelaskan persatuan versi dunia ini sama seperti persatuan yang dibangun manusia berdosa ketika membangun Menara Babel (Kej. 11:6) dan persatuan ini disebut oleh Matthew Henry sebagai persatuan yang melawan Kristus. Apa semboyan utama persatuan ala duniawi (meskipun di“baptis” dalam nama “yesus”)? Matthew Henry menuturkannya, “Let Christ Jesus be the centre of your unity. Agree in the truth, not in any error.” (=Biarlah Kristus Yesus menjadi pusat dari kesatuan kita. Setuju di dalam kebenaran, tidak setuju di dalam segala kesalahan.) Di balik semboyan ini, meskipun setuju kepada/di dalam kebenaran, sebenarnya bukan kebenaran hakiki yang dimaksud, tetapi kebenaran yang cocok dengan dirinya. Dari mana saya tahu? Karena kalimat selanjutnya berbunyi, “not in any error.” Berarti yang penting berpusat kepada Kristus, ajaran apa pun yang sama (berpusat kepada Kristus) marilah kita setujui, sedangkan yang tidak sama tidak perlu kita setujui bahkan tidak perlu kita pedulikan. Hal ini ada sedikit unsur yang benar, yaitu hal-hal sekunder tidak perlu kita perdebatkan (bdk. Rm. 14), tetapi di sisi lain, hal ini bisa berbahaya. Logika ini sangat tidak masuk akal. Sebuah iman yang sungguh-sungguh berpusat kepada Kristus, doktrin-doktrin yang dibangunnya pasti berasal dari Kristus, oleh Kristus, dan bagi Kristus (Rm. 11:36). Dengan kata lain, dari awal sampai akhir sebuah doktrin dari iman ini pasti bersumber kepada Kristus. Sehingga, adalah hal yang mustahil jika ada suatu iman yang katanya mengaku berpusat kepada Kristus, tetapi doktrin keselamatannya sangat antroposentris (berpusat pada manusia). Dengan demikian, bisakah gereja-gereja yang orthodoks yang mengakui finalitas karya Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat bisa bersatu dengan gereja-gereja “liberal” yang secara implisit menolak finalitas Kristus? Jika bisa, persatuan ini di titik pertama telah menyalahi hakikat persatuan yang utama yaitu kemuliaan Allah, karena persatuan ini telah merusak kemuliaan Allah.

 

Bukan hanya berfokus kepada kemuliaan Allah saja, persatuan juga ditandai dengan kesehatian umat Tuhan. Hal ini ditandai dengan penggunaan pernyataan, “dengan satu hati dan satu suara…” di ayat 6 ini. Ketika umat Tuhan sehati sepikir bersatu memuliakan Allah, di saat itulah terjadi persatuan sejati. Sayang, umat Tuhan dewasa ini sangat terpecah. Mereka lebih mementingkan golongan gereja dan doktrin sendiri lalu menghina doktrin lain sebagai “tidak ada ‘roh kudus’.” Mereka tidak lagi berpusat kepada Kristus dan Kebenaran-Nya, tetapi pada denominasi. Akibatnya, tidak usah heran, beberapa golongan Kristen termasuk gereja dan lembaga pendidikan “Kristen” telah memblacklist kegiatan penginjilan yang diselenggarakan oleh lembaga tertentu yang beres dengan alasan takut, gerejanya dicuri oleh lembaga ini. Memang terdengar aneh, sebuah sekolah “Kristen” menolak kegiatan penginjilan, sedangkan banyak sekolah negeri mendukung kegiatan penginjilan. Berarti, yang lebih beres itu sekolah “Kristen” atau sekolah negeri? Bertobatlah hai sekolah-sekolah “Kristen” yang berani melarang penginjilan! Sudah saatnya orang Kristen bangun dari tidur. Bangun dari keberpihakan pada lembaga atau denominasi gerejanya masing-masing. Bangun dari ketiduran akan filsafat-filsafat dunia yang berdosa yang mengarahkan orang-orang Kristen kepada humanisme atheis! Bangun dan berdirilah tegak, bersatu padu, sehati sepikir, dan bersama-sama memuliakan Allah dengan menggenapkan kehendak-Nya! Bangun untuk mempersiapkan diri dengan belajar Alkitab baik-baik dan memberitakan Injil demi memperluas Kerajaan-Nya! Jangan ditipu oleh setan yang memakai beberapa sekolah “Kristen” menolak penginjilan! Lawanlah iblis dan matikan siasatnya! Berjuang dan bersatulah menegakkan dan menggenapkan kehendak-Nya sesuai dengan firman-Nya.

 

 

Lalu, bagaimana aplikasi praktis ayat 6? Di ayat 7, ia menjelaskan, “Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.” Wujud dari kita sehati sepikir memuliakan Allah adalah dengan kita menerima satu sama lain demi kemuliaan-Nya. Kita menerima satu sama lain itu seperti Kristus telah menerima kita. Berarti, sebagaimana Kristus telah menerima kita saat kita masih berdosa, maka kita pun harus berlaku hal yang sama, menerima umat Tuhan yang lain untuk bersama-sama bertumbuh di dalam pengenalan akan Allah dan memuliakan-Nya. Kadang kala kita terlalu egois. Ketika kita mengetahui bahwa ada orang Kristen dari gereja lain yang ekstrem, kita langsung masa bodoh dan menghina mereka. Seharusnya kita tidak perlu demikian. Kita harus membimbing mereka yang dari gereja yang kurang bertanggungjawab agar mereka bisa bertumbuh di dalam pengenalan akan Allah dengan bertanggungjawab sesuai firman-Nya. Kita bisa mengajak mereka bersama-sama bertumbuh di dalam firman Tuhan, lalu kita bersama-sama pula memuliakan Allah. Lagi-lagi, Paulus menekankan fokus dari tindakan ini adalah kemuliaan Allah. Allah dimuliakan ketika kita memiliki satu hati, visi, pikiran, misi, tujuan, dan gerak dengan umat Tuhan lain. Sudahkah kita memiliki satu hati, visi, pikiran, misi, tujuan, dan gerak yang hanya berpusat kepada Allah dan demi kemuliaan-Nya?

 

 

Setelah kita merenungkan empat ayat di atas, apa yang menjadi respons kita? Apakah kita masih egois mementingkan organisasi/denominasi/lembaga kita sendiri? Biarlah kita tidak lagi bersikap dan berpikir demikian. Biarlah Roh Kudus membakar hati kita agar kita memiliki semangat yang berkobar-kobar memuliakan Kristus bersama-sama umat Tuhan dari gereja lain. Amin. Soli Deo Gloria…

 

Roma 15:1-3: MENJADI BERKAT BAGI SESAMA-2: Jemaat yang Saling Menguatkan dan Menyenangkan

November 30th, 2008 by tanenlai2005

Seri Eksposisi Surat Roma:

Aplikasi Doktrin-20

 

 

Menjadi Berkat bagi Sesama-2: Jemaat yang Saling Menguatkan dan Menyenangkan

 

oleh:Denny Teguh Sutandio

 

 

 

Nats: Roma 15:1-3.

 

 

 

Setelah menjelaskan bahwa anak Tuhan harus menjadi berkat dengan mengejar sesuatu yang mendatangkan damai dan saling membangun/menguatkan di pasal 14 ayat 19 s/d 23, maka Paulus melanjutkan pembahasannya pada aplikasi bagaimana jemaat bisa saling menguatkan. Mengapa saya mengatakan bahwa pasal 15 ayat 1-6 merupakan kelanjutan dari 14:19-23? Karena di ayat 1, Paulus menggunakan kata “Maka” dalam teks aslinya. Terjemahan Baru LAI menerjemahkannya, “Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri.” Terjemahan Baru LAI ini tidak menunjukkan adanya kaitan tersebut. Beberapa terjemahan Inggris ada yang menerjemahkan dengan menambahkan kata then (kemudian), sedangkan beberapa terjemahan Inggris lainnya tidak menerjemahkannya. English Majority Text Version (EMTV), King James Version (KJV), Modern King James Version (MKJV), James Murdock New Testament, 1833 Webster Bible menerjemahkannya dengan menambahkan kata then (=kemudian). God’s Word menerjemahkannya dengan menambahkan kata So (=Oleh karena itu/Jadi). Kata Yunani yang dipakai adalah de bisa diterjemahkan tetapi, dan, dll (but, and, etc). Kata ini menurut struktur bahasa Yunaninya adalah sebuah kata sambung (conjunction) yang menghubungkan kalimat sebelum dan sesudahnya secara setara (coordinating, bukan subordinating). Dengan kata lain, kita mendapatkan pengertian bahwa setelah kita dituntut oleh Paulus untuk menjadi berkat bagi sesama dengan mengejar sesuatu yang mendatangkan kedamaian dan saling membangun, kita dituntut untuk mengaplikasikannya di dalam persekutuan jemaat. Kita yang mengaplikasikannya ini disebut Paulus sebagai orang yang kuat. Kata “kuat” di dalam bahasa Yunaninya adalah dunatos yang berarti berkuasa atau mampu (powerful, capable). Berarti, kita disebut oleh Paulus sebagai orang yang berkuasa atau mampu. Berkuasa dalam hal apa? Berkuasa/mampu dalam mengerti hal-hal rohani. Sesuai konteks, kita mengerti bahwa kata ini dipakai untuk mereka yang bebas makan makanan apa pun tanpa terikat. Nah, agar kita menjadi berkat bagi sesama dengan menguatkan mereka, maka Paulus mengatakan bahwa kita harus membatasi kebebasan kita demi sesama kita. Bagaimana caranya? Paulus membagikannya menjadi dua cara, yang saya sebut sebagai cara positif dan pasif negatif. Cara itu adalah:

Pertama, wajib menanggung kelemahan orang yang lemah. Kata “menanggung” dalam bahasa Yunani adalah bastazō bisa berarti mengangkat (to lift), menanggung/membawa (to bear), membawa (to carry), dll. Di dalam Perjanjian Baru, kata ini muncul sebanyak 27x dan bisa diterjemahkan memikul, mengusung, memberitakan, menahan (penderitaan), bahkan mencuri. (Hasan Sutanto, 2003, Konkordansi Perjanjian Baru Yunani-Indonesia, hlm. 148) Dalam struktur bahasa Yunaninya, kata kerja ini berbentuk present (terus-menerus) dan aktif. Lalu, kata “kelemahan” di sini dalam bahasa Yunaninya adalah asthenēma bisa berarti kelemahan (infirmity) atau keberatan hati nurani (a scruple of conscience). Kata ini hanya muncul satu kali di dalam Perjanjian Baru. Sesuai konteks, kelemahan di sini lebih tepat diterjemahkan seperti arti dari bahasa Yunaninya yaitu keberatan hati nurani, karena konteks menunjukkan bahwa ada jemaat Roma (khususnya yang masih berpegang ada adat-istiadat Yahudi) yang memiliki keberatan hati nuraninya kalau memakan sesuatu yang tidak halal. Dengan kata lain, kita yang kuat rohaninya dituntut oleh Paulus untuk terus-menerus ikut menanggung keberatan hati nurani sesama jemaat yang lemah hati nuraninya. Ikutnya kita bersama-sama memikul keberatan hati nurani sesama jemaat yang lemah membuktikan bahwa kita memperhatikan mereka dan kita sudah menjadi berkat bagi mereka. Bagaimana caranya ikut menanggung keberatan hati nurani jemaat yang lemah ini? Di dalam 1 Korintus 8:13, Paulus memberikan contoh konkritnya yaitu ia tidak akan makan daging selama-lamanya jika makanan tersebut menjadi batu sandungan bagi sesama jemaat. Kalau Paulus bisa mempraktikkan apa yang diajarkannya, bagaimana dengan kita? Sudahkah kita siap ikut menanggung keberatan hati nurani sesama jemaat? Kalau di konteks Paulus, itu menunjuk kepada makanan, maka di zaman sekarang, itu bisa menunjuk kepada perbedaan doktrin secara sekunder. Kita tidak mau memahami kelemahan/keberatan jemaat lain yang mungkin belum mengerti doktrin-doktrin Alkitab secara mendalam seperti yang telah kita pelajari, tetapi sering kali kita menjadi sombong, lalu mengajar mereka yang tidak mengerti dengan istilah-istilah yang sulit. Ketika kita tahu bahwa ada jemaat yang kurang mengerti atau lemah imannya, bukankah kita yang lebih kuat imannya dipanggil menguatkan mereka, bukan sok jagoan mengajar mereka dengan istilah-istilah theologi yang rumit? Ini menjadi refleksi bagi kita yang sudah belajar theologi. Theologi yang kita pelajari sering membuat kita menjadi sombong di dalam mengajar dan berkhotbah, sehingga pendengar yang belum tentu semuanya berpendidikan tinggi diharuskan mengerti apa yang kita beritakan/ajarkan. Tugas Kekristenan dan theologi yang sehat adalah menjadikan theologi itu “mendarat” di bumi dengan istilah-istilah yang mudah dimengerti namun jelas, berisi, dan bertanggungjawab.

 

Kedua, tidak mencari kesenangan diri sendiri. Atau dalam terjemahan Yunaninya adalah jangan menyenangkan (KJV: please = menyenangkan) diri kita sendiri. Dalam struktur bahasa Yunaninya, kata kerja ini sama seperti kata kerja menanggung di poin pertama tadi, yaitu menggunakan keterangan waktu present (terus-menerus) dan aktif. Dengan kata lain, selain kita menanggung keberatan hati nurani sesama jemaat yang lemah, kita diperintahkan Paulus untuk secara negatif namun aktif untuk tidak terus-menerus menyenangkan diri kita sendiri. Mengapa? Karena bagi Paulus, orang yang terus-menerus menyenangkan dirinya sendiri adalah orang yang egois dan tidak memiliki kasih. Bagaimana dengan kita? Apakah kita masih masa bodoh dengan keberatan hati nurani jemaat lain yang berbeda doktrin dengan kita? Biarlah poin ini menyadarkan kita untuk tidak egois. Orang yang egois tidak akan bisa menjadi berkat bagi sesama jemaat dan itu pun dibenci oleh Allah (bdk. ay. 3).

 

 

Setelah kita diajar untuk menanggung keberatan hati nurani orang lain dan tidak terus-menerus menyenangkan diri kita sendiri, lalu apa yang kita kerjakan selanjutnya? Di ayat 2, Paulus mengajarkan, “Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya.” Di ayat ini, kita diharuskan Paulus untuk menyenangkan sesama kita demi kebaikannya untuk membangun. Paulus sangat teliti memakai kalimat di ayat ini. Ia tidak mengajar bahwa kita harus mencari kesenangan sesama kita, lalu berhenti. Tetapi ia menyambung dengan mengatakan, “demi kebaikannya untuk membangunnya.” Tambahan perkataan ini sangat signifikan untuk kita pelajari. Kita menyenangkan sesama kita bukan untuk kepuasan sesama kita, tetapi demi kebaikannya. Apa bedanya demi kepuasannya dan demi kebaikannya? Jika kita menyenangkan sesama kita demi kepuasannya, itu dilatarbelakangi oleh kekesalan kita karena orang lain itu cerewet bukan main, maka kita menyenangkannya supaya dia merasa puas dan tidak cerewet. Tetapi jika kita menyenangkan sesama kita demi kebaikannya, berarti kita memperhatikan dan mengasihi jemaat tersebut. Ini dua motivasi dan tujuan yang berbeda. Bagaimana dengan kita? Ketika kita mencoba menyenangkan sesama kita, apa motivasi kita? Supaya dia puas dan tidak mengomel lagi ataukah kita benar-benar memperhatikan dan mengasihi mereka?

 

Cukupkah menyenangkan sesama kita hanya demi kebaikannya saja? TIDAK. Paulus mengatakan bahwa kita harus menyenangkan sesama kita untuk membangunnya. KJV menerjemahkan “membangun” sebagai edification (pendidikan moral atau pengajaran yang baik). Terjemahan dari bahasa Yunaninya adalah yang baik untuk pembinaan. (Hasan Sutanto, 2003, Perjanjian Baru Interlinear, hlm. 873) Dengan demikian, kita mengerti bahwa kita menyenangkan sesama kita tidak berarti kompromi, tetapi bertujuan untuk membina jemaat yang keberatan hati nurani itu supaya mereka bertobat dan kembali kepada pengajaran yang beres. Ujung-ujungnya, standarnya tetap adalah Kebenaran, bukan kompromi-isme seperti yang diilahkan oleh banyak orang postmodern. Bagaimana dengan kita? Apakah ketika kita menyenangkan sesama, kita mengkompromikan iman dan kebenaran hakiki? Ataukah ketika menyenangkan sesama kita, kita tetap bertujuan menuntun mereka kembali kepada kebenaran?

 

 

Mengapa kita harus menyenangkan sesama kita? Paulus memberikan dasar pijaknya yaitu teladan dari Kristus sendiri di ayat 3, “Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri, tetapi seperti ada tertulis: “Kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku.”” Kata “mencari kesenangan” seperti di dua ayat di atas seharusnya diterjemahkan “menyenangkan.” Berarti, Kristus sendiri tidak menyenangkan diri-Nya sendiri. Kalau Kristus mau menyenangkan diri sendiri, itu tidak sulit bagi-Nya, karena Ia adalah Anak Allah, Ia bebas melakukan apa pun. Tetapi puji Tuhan, di dalam kebebasan-Nya, Ia “membatasi” kebebasan-Nya dengan rela menanggung semua hinaan manusia berdosa yang ditujukan kepada Bapa. Ia lebih memikirkan bagaimana menggenapi kehendak Bapa ketimbang memikirkan kesenangan diri. Saya mengganti “Kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku.”” dengan menanggung semua hinaan manusia berdosa yang ditujukan kepada Bapa, karena Mazmur 69:10b yang secara konteks menunjuk kepada Daud di dalam doa kesesakannya, sekarang dipakai Paulus untuk menjelaskan tentang Kristus dan itu memang benar. Mengapa Ia mau menanggung celaan manusia yang ditujukan kepada Bapa? Karena Ia mengasihi manusia berdosa. Seperti Kristus yang telah menjadi teladan bagi umat Tuhan dengan menanggung celaan yang dilontarkan manusia kepada Bapa dengan tujuan agar umat pilihan-Nya yang termasuk di dalamnya itu diperdamaikan dengan Bapa-Nya, bertobat, dan menerima-Nya, maka kita pun sebagai anak-Nya harus menanggung kelemahan/keberatan hati nurani jemaat lain dengan tujuan agar jemaat yang lemah imannya itu boleh dikuatkan dan diajar melalui perhatian dan kasih kita yang mengajar mereka. Sudahkah kita siap dipakai Tuhan menjadi berkat bagi sesama kita dengan menguatkan mereka yang lemah imannya?

 

 

Biarlah renungan dari 3 ayat ini menguatkan kita untuk terus-menerus menjadi saluran berkat bagi sesama kita dengan saling menguatkan dan menyenangkan sesama kita dengan standar kebenaran. Amin. Soli Deo Gloria.